Menghindari Sikap Konsumtif Berlebihan di Bulan Ramadan
- 09 Mar 2026 17:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan sering dijuluki sebagai Syahrul Qur'an atau bulan Al-Qur'an, namun realitas di lapangan menunjukkan adanya pergeseran fokus masyarakat ke arah budaya konsumtif. Hal ini menjadi perhatian serius Ustaz Didi Supriadi Dalam program Mutiara Ramadan di Pro1 RRI Samarinda, Minggu, 8 Maret 2026.
Ustaz Didi mengamati, interaksi masyarakat dengan kebutuhan fisik, seperti berburu takjil dan mempersiapkan pakaian lebaran, sering kali jauh lebih intens dibandingkan interaksi mereka dengan kitab suci. Momentum rohani seolah tertutup oleh hiruk-pikuk persiapan materi.
| Baca juga: Bersihkan Hati dengan Taubat Nasuha |
"Interaksi takjilnya itu lebih banyak ketimbang interaksi dengan Al-Qur'annya padahal di bulan Ramadan ini adalah Syahrul Qur'an," ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena 10 hari terakhir Ramadan. Alih-alih meningkatkan iktikaf, banyak masyarakat yang justru lebih sibuk di pusat perbelanjaan untuk mengganti gaya dan setelan baju demi menyambut hari raya. Hal ini dianggap bisa menjauhkan umat dari standar takwa yang seharusnya dikejar.
Kecenderungan ini membuat esensi puasa seolah-olah hanya menjadi kegiatan memindahkan waktu makan dari siang ke malam hari. Ustaz Didi mengingatkan agar kebutuhan rohani harus mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan kebutuhan fisik semata.
"Seakan-akan kita ini berpuasa hanya untuk pindah makan, ganti gaya, ganti setelan," katanya.
Melalui ulasan ini, masyarakat diajak untuk kembali melakukan evaluasi dan intervensi diri. Ustaz Didi berharap umat muslim bisa lebih fokus pada ibadah kepada Allah Swt dan menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya utama dalam mengisi hari-hari di bulan Ramadan agar tidak terjebak dalam rutinitas fisik yang sia-sia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....