Puasa dan Ujian Emosi, Benarkah Bisa Membentuk Kesabaran?
- 03 Mar 2026 10:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tidak sedikit orang yang mengaku sedang berpuasa, tetapi tetap mudah tersinggung, marah, bahkan melontarkan kata-kata yang melukai. Lapar dan haus kerap dijadikan alasan untuk bersikap sensitif. Lalu, benarkah puasa mampu menjadikan seseorang lebih sabar?
Hal ini dibahas dalam program Mutiara Pagi di RRI Malang dengan tema “Apakah Puasa Bisa Menjadikan Orang Sabar” Minggu (1/3/2026) pagi, bersama Ustazah Supraptiningsih, S.Ag., M.Pd. beliau menjelaskan bahwa secara bahasa, puasa dan sabar memiliki akar makna yang sama, yakni menahan diri. “Sabar itu bukan pasif atau diam saja, tetapi menahan diri agar tidak grusa-grusu dan tetap punya keteguhan hati untuk mencari solusi,” jelasnya.
Menurutnya, puasa melatih kesabaran dalam tiga dimensi. Pertama, secara fisik, yakni menahan lapar dan haus sejak fajar hingga maghrib. Kedua, secara emosional, yaitu menahan amarah dan menjaga lisan dari dusta maupun perkataan buruk. “Banyak orang berpuasa, tapi hanya dapat lapar dan haus karena tidak mampu menjaga lisannya,” tegasnya.
Dimensi ketiga adalah sabar dalam ibadah. Ramadan menjadi momentum meningkatkan kualitas salat, tadarus, hingga sedekah meskipun tubuh terasa lelah. “Sabar dalam ketaatan itu justru yang berat, tapi di situlah nilai latihannya,” ujarnya.
Ustazah Suprapti menekankan bahwa tujuan akhir puasa adalah meraih ketakwaan, sebagaimana firman Allah laallakum tattaquun. Salah satu indikator takwa adalah kemampuan mengendalikan diri. “Kalau setelah Ramadhan kita lebih sabar, berarti puasanya berhasil. Tapi kalau tetap mudah marah, berarti baru sebatas rutinitas fisik,” tambahnya.
Beliau mengingatkan bahwa puasa berkualitas adalah puasa yang menyentuh gizi spiritual, bukan sekadar menahan lapar. “Isi dengan zikir, wudhu ketika emosi naik, dan perbanyak amal saleh. Di situlah puasa membentuk karakter,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....