Perlukah Kita Benar-Benar Menghentikan Konsumsi Gula?
- 20 Jul 2026 11:32 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Isu mengenai bahaya konsumsi gula telah memicu tren gaya hidup ekstrem di mana banyak orang memilih untuk menghentikan total asupan gula harian. Namun, wacana mengenai perlunya berhenti mengonsumsi gula hingga seratus persen masih menjadi perdebatan hangat di kalangan praktisi kesehatan. Berdasarkan informasi yang dikutip dari artikel ilmiah dalam jurnal Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews tahun 2023 yang disusun oleh Dr. Elena Rodriguez dan tim, tubuh sebenarnya masih memerlukan glukosa sebagai sumber energi utama bagi otak dan otot agar dapat berfungsi secara optimal.
Penelitian tersebut menekankan bahwa yang menjadi ancaman nyata bukanlah keberadaan gula dalam makanan secara alami, melainkan konsumsi gula tambahan atau gula rafinasi yang berlebihan. Menghentikan konsumsi gula secara total hingga nol persen justru berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan nutrisi, terutama jika individu kehilangan sumber energi cepat yang dibutuhkan saat melakukan aktivitas fisik berat. Kuncinya bukanlah pada pelarangan total, melainkan pada pengaturan jenis dan jumlah asupan gula agar tetap berada dalam ambang batas yang aman bagi tubuh.
Gula yang berasal dari sumber alami seperti buah-buahan, sayuran, dan produk susu mengandung serat, vitamin, serta mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Jika seseorang memutuskan untuk berhenti mengonsumsi gula sepenuhnya tanpa panduan yang tepat, tubuh berisiko kehilangan berbagai asupan mikronutrien penting tersebut. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih bijak adalah dengan membedakan antara gula alami yang bermanfaat dan gula tambahan yang sering kali tidak memiliki nilai gizi namun sarat dengan kalori kosong.
Alih-alih melakukan tindakan ekstrem berupa penghentian total, para ahli kesehatan lebih menyarankan untuk membatasi konsumsi gula tambahan dari minuman kemasan, makanan olahan, serta camilan manis yang diproses secara berlebihan. Pola makan yang seimbang dengan tetap memprioritaskan makanan utuh atau whole foods jauh lebih berkelanjutan bagi kesehatan jangka panjang dibandingkan dengan diet ketat yang sulit dipertahankan. Strategi pengurangan secara bertahap terbukti lebih efektif dalam menurunkan risiko penyakit metabolik dibandingkan perubahan mendadak yang drastis.
Pada akhirnya, kesehatan metabolisme sangat bergantung pada pola makan secara keseluruhan dan bukan hanya menghindari satu jenis zat makanan saja. Membangun kesadaran untuk membaca label kemasan makanan menjadi langkah preventif yang lebih efektif daripada meniadakan gula seratus persen dari menu harian. Dengan mengedepankan pola konsumsi yang terukur dan variatif, setiap individu dapat tetap menikmati hidup dengan rasa manis yang wajar tanpa harus mengorbankan fungsi vital tubuh.
#PolaMakanSehat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....