Mengenal Bediding, Fenomena Udara Dingin saat Musim Kemarau
- 14 Jul 2026 22:39 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari- Beberapa daerah di Indonesia sering mengalami udara yang terasa jauh lebih dingin ketika musim kemarau tiba. Masyarakat Jawa mengenal fenomena ini dengan istilah bediding. Meski terdengar seperti nama suatu musim, bediding sebenarnya merupakan kondisi alam yang menyebabkan suhu udara turun, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena ini biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Agustus, saat musim kemarau sedang berlangsung. Pada waktu tersebut, langit cenderung cerah dan hampir tidak tertutup awan. Kondisi inilah yang membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu udara menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya.
Bediding bukan berarti Indonesia sedang mengalami musim dingin seperti negara-negara yang memiliki empat musim. Udara memang terasa lebih sejuk, tetapi suhu yang terjadi masih jauh lebih hangat dibandingkan musim dingin di wilayah subtropis.
Mengapa bediding bisa terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya tutupan awan. Pada malam hari, awan sebenarnya berfungsi seperti "selimut" yang membantu menahan panas bumi agar tidak cepat lepas ke angkasa. Ketika langit cerah tanpa awan, panas tersebut menghilang lebih cepat sehingga udara di sekitar permukaan bumi menjadi dingin.
Selain itu, pada musim kemarau, kandungan uap air di udara juga lebih sedikit. Uap air memiliki kemampuan menyimpan panas. Ketika jumlahnya berkurang, udara menjadi lebih mudah mendingin, terutama menjelang fajar.
Fenomena bediding biasanya lebih terasa di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan wilayah yang jauh dari pantai. Meski demikian, beberapa daerah dataran rendah juga dapat merasakan udara yang lebih sejuk dibandingkan hari-hari biasanya.
| Baca juga: Cara Mengatasi Ngantuk saat Kerja |
Walaupun bukan kondisi yang berbahaya, bediding tetap dapat memengaruhi kesehatan. Udara dingin dapat membuat tubuh lebih rentan mengalami batuk, pilek, tenggorokan kering, atau memperburuk gejala asma pada sebagian orang. Bagi lansia, bayi, dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah, udara dingin juga perlu lebih diwaspadai.
Agar tetap nyaman selama fenomena bediding berlangsung, gunakan pakaian yang lebih hangat saat pagi dan malam hari. Jangan lupa mencukupi kebutuhan cairan tubuh meskipun cuaca terasa dingin, karena tubuh tetap membutuhkan air untuk menjaga fungsi organ. Konsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, serta rutin berolahraga juga dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.
Bagi para petani, bediding juga menjadi fenomena yang perlu diperhatikan. Penurunan suhu yang cukup ekstrem di beberapa wilayah dapat memicu embun yang berlebihan, bahkan embun upas di daerah pegunungan, yang berpotensi merusak tanaman tertentu.
| Baca juga: Jangan Sepelekan Gatal saat Kedinginan |
Fenomena bediding merupakan bagian dari dinamika iklim tropis Indonesia yang terjadi secara alami setiap musim kemarau. Memahami penyebabnya membuat kita tidak perlu panik ketika udara tiba-tiba terasa lebih dingin. Sebaliknya, kondisi ini dapat menjadi pengingat untuk lebih menjaga kesehatan dan menyesuaikan aktivitas dengan perubahan cuaca yang sedang berlangsung.
Sumber : • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) – Penjelasan mengenai fenomena bediding dan karakteristik musim kemarau di Indonesia.
• Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Edukasi menjaga kesehatan saat terjadi perubahan cuaca.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....