Penelitian Kesehatan terhadap Stigma yang Diterima MSG

  • 28 Jun 2026 16:54 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Monosodium glutamat atau lebih dikenal sebagai MSG merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang paling sering menimbulkan perdebatan. Selama puluhan tahun, penyedap rasa ini kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sakit kepala hingga kerusakan otak.

Menurut publikasi artikel Healthline pada 17 Oktober 2026 yang ditulis Ariane Lang, sebagian besar anggapan negatif tentang MSG berasal dari penelitian lama yang kini dinilai memiliki banyak keterbatasan metodologi. Berbagai lembaga kesehatan dunia bahkan menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

MSG sendiri merupakan penyedap rasa yang berasal dari asam L-glutamat, sejenis asam amino nonesensial yang juga diproduksi secara alami oleh tubuh manusia. Selain diproduksi melalui proses fermentasi bahan seperti tebu, bit gula, atau molase, glutamat juga secara alami terdapat pada berbagai bahan makanan, seperti tomat, jamur, keju, hingga daging.

Secara kimia, glutamat alami yang terdapat pada makanan tidak berbeda dengan berasal dari MSG. Karena itu, tubuh manusia tidak dapat membedakan keduanya. MSG dikenal mampu menghasilkan rasa umami, yaitu rasa gurih yang kini diakui sebagai rasa dasar kelima selain manis, asam, asin, dan pahit.

MSG bisa membuat makanan terasa lebih enak karena bekerja dengan memperkuat rasa umami sehingga mampu meningkatkan cita rasa makanan. Rasa gurih tersebut juga merangsang produksi air liur sehingga makanan terasa lebih nikmat.

Penggunaan MSG juga dapat membantu mengurangi konsumsi garam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengganti sebagian garam dengan MSG mampu menurunkan asupan natrium sekitar tiga persen tanpa mengurangi kenikmatan rasa makanan. Karena alasan tersebut, MSG juga sering digunakan pada berbagai produk rendah sodium seperti sup instan, makanan beku, hingga produk olahan susu.

Pandangan negatif terhadap MSG mulai berkembang pada akhir 1960-an setelah seorang dokter keturunan Tionghoa-Amerika, Robert Ho Man Kwok, mengirim surat kepada jurnal New England Journal of Medicine. Dalam surat tersebut, ia mengaku mengalami sejumlah gejala setelah mengonsumsi makanan China dan menduga penyebabnya bisa berasal dari alkohol, kandungan garam, atau MSG.

Surat itu kemudian memunculkan istilah Chinese Restaurant Syndrome, yang belakangan dikenal sebagai MSG Symptom Complex (MSC). Sejak saat itu, MSG sering dianggap sebagai penyebab berbagai gangguan kesehatan. Sejumlah penelitian awal memang mendukung anggapan tersebut. Namun kini penelitian-penelitian itu dinilai memiliki banyak kelemahan, seperti jumlah sampel yang kecil, tidak adanya kelompok pembanding, penggunaan dosis MSG yang jauh lebih tinggi daripada konsumsi sehari-hari, hingga pemberian MSG melalui suntikan, bukan melalui makanan.

Saat ini berbagai lembaga kesehatan internasional seperti Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, serta European Food Safety Authority (EFSA) menyatakan bahwa MSG termasuk bahan pangan yang aman dikonsumsi. Ketiga lembaga tersebut menetapkan batas konsumsi harian yang dapat diterima sebesar 30 miligram per kilogram berat badan, jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi masyarakat sehari-hari.

Beberapa penelitian pada hewan pernah menghubungkan MSG dengan obesitas dan gangguan metabolisme karena diduga memengaruhi hormon leptin yang mengatur rasa kenyang. Hasil penelitian terbaru masih menunjukkan temuan yang saling bertentangan.

Sebagian penelitian justru menemukan bahwa makanan kaya umami dapat meningkatkan rasa kenyang, terutama bila dikombinasikan dengan makanan tinggi protein. Sementara penelitian lain tidak menemukan hubungan langsung antara konsumsi MSG dalam jumlah normal dengan peningkatan berat badan. Para peneliti menyimpulkan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti kuat bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar menyebabkan obesitas.

Glutamat memang berperan sebagai neurotransmiter yang penting dalam sistem saraf. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa glutamat yang berasal dari makanan hampir tidak dapat menembus pembatas darah otak (blood-brain barrier). Dengan demikian, glutamat dari MSG tidak secara langsung memengaruhi aktivitas otak sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan. Bukti ilmiah juga belum ada yang meyakinkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal dapat menyebabkan kerusakan otak.

Meskipun aman bagi sebagian besar orang, sebagian kecil populasi diperkirakan memiliki sensitivitas terhadap MSG. Kondisi ini dikenal sebagai MSG Symptom Complex (MSC) dengan gejala seperti sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, pusing, lemah, sesak napas, hingga ketegangan otot. Namun, menurut Lang dalam Healthline, kondisi tersebut diperkirakan hanya dialami oleh kurang dari satu persen populasi. Selain itu, gejala biasanya baru muncul setelah mengonsumsi sekitar 3 gram MSG sekaligus tanpa makanan, sementara satu porsi makanan umumnya hanya mengandung kurang dari setengah gram MSG.

Berdasarkan bukti ilmiah terbaru, MSG bukanlah bahan tambahan pangan berbahaya seperti yang selama ini banyak dipercaya masyarakat. Lang dalam Healthline menegaskan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal tergolong aman bagi sebagian besar orang. Namun, seperti halnya bahan makanan lainnya, konsumsi tetap perlu dilakukan secara wajar. Bagi mereka yang merasa mengalami gejala tertentu setelah mengonsumsi MSG, disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....