Bahaya Rabies, Gigitan Hewan hingga Risiko Kematian
- 21 Mei 2026 14:59 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Rabies atau yang dikenal juga sebagai penyakit anjing gila merupakan salah satu penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat pada manusia dan hewan berdarah panas.
Penyakit ini dikenal sangat berbahaya karena tingkat kematiannya yang tinggi apabila tidak segera ditangani. Dikutip dari laman resmi kemkes.go.id rabies masih menjadi ancaman serius, terutama di daerah endemis yang memiliki interaksi tinggi antara manusia dan hewan penular.
Rabies disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf pusat, khususnya otak. Penularannya terjadi melalui saliva atau air liur hewan yang terinfeksi, umumnya melalui gigitan, cakaran, atau luka terbuka yang terkontaminasi virus.
Hewan yang paling sering menjadi perantara penular rabies antara lain anjing, kucing, dan kera. Hewan-hewan ini dapat membawa virus tanpa selalu menunjukkan gejala yang langsung terlihat, sehingga kewaspadaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting.
Di berbagai daerah endemis, masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati terhadap hewan liar maupun hewan peliharaan yang tidak mendapatkan vaksinasi rabies. Edukasi mengenai gejala serta langkah pertolongan pertama menjadi kunci dalam menekan angka kematian akibat penyakit ini.
Gejala rabies pada manusia umumnya muncul secara bertahap. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, tubuh lemas, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, hingga penurunan nafsu makan. Selain itu, beberapa pasien juga merasakan insomnia atau kesulitan tidur.
Salah satu gejala khas yang sering tidak disadari adalah rasa kesemutan, nyeri, atau sensasi panas pada area bekas gigitan atau cakaran hewan. Gejala ini dapat menjadi tanda awal bahwa virus mulai menyebar ke sistem saraf.
Seiring perkembangan penyakit, gejala akan semakin berat dan berbahaya. Penderita dapat mengalami gangguan saraf seperti hidrofobia atau ketakutan terhadap air, aerofobia atau ketakutan terhadap angin, serta fotofobia atau sensitivitas berlebihan terhadap cahaya. Pada tahap ini, kondisi pasien biasanya sudah sangat kritis.
Menurut penjelasan medis, virus rabies setelah masuk ke dalam tubuh akan bergerak melalui saraf menuju otak. Proses ini bisa berlangsung dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan, tergantung lokasi gigitan. Gigitan di area wajah atau kepala biasanya menyebabkan gejala muncul lebih cepat karena jarak virus menuju otak lebih dekat.
Jika sudah mencapai tahap lanjut, rabies dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang berujung pada kegagalan fungsi organ dan kematian. Kondisi ini membuat rabies dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan di dunia.
| Baca juga: Makanan Yang Baik Untuk Penderita Asam Urat |
Kasus kematian akibat rabies sebagian besar terjadi karena keterlambatan penanganan. Banyak masyarakat yang menganggap gigitan kecil atau tidak berdarah sebagai hal sepele, sehingga tidak segera melakukan pertolongan pertama maupun pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Padahal, tindakan cepat sangat menentukan keselamatan pasien. Setelah tergigit hewan yang dicurigai terinfeksi rabies, masyarakat diimbau segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, kemudian segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan vaksinasi dan penanganan medis lebih lanjut.
Tenaga kesehatan menegaskan bahwa rabies dapat dicegah sepenuhnya jika penanganan dilakukan sejak awal sebelum gejala muncul. Namun, setelah gejala klinis berkembang, peluang kesembuhan menjadi sangat kecil.
Rabies bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan hewan peliharaan, melakukan vaksinasi, serta segera mencari pertolongan medis setelah gigitan hewan penular menjadi langkah penting dalam mencegah jatuhnya korban jiwa.
Dengan edukasi yang tepat dan respons cepat, rabies dapat dikendalikan dan tidak lagi menjadi ancaman mematikan di tengah masyarakat.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....