Proses Donor Darah Melalui Tahapan Kompleks dan Standar Ketat

  • 15 Apr 2026 17:59 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dialog interaktif di RRI Malang mengungkap bahwa proses donor darah memerlukan tahapan yang kompleks sebelum digunakan untuk pasien. Hupitoyo, S.Kp., M.Kes dari Poltekkes Malang menegaskan bahwa darah tidak bisa langsung ditransfusikan setelah diambil.

Ia menjelaskan bahwa darah harus melalui serangkaian proses seperti penyaringan dan pengujian terhadap berbagai penyakit menular. Selain itu, darah juga dipisahkan menjadi beberapa komponen sesuai kebutuhan medis pasien.

“Darah itu tidak bisa langsung ditransfusikan, tapi harus melalui tahapan yang sangat ketat dan kompleks,” jelasnya pada Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, pemahaman masyarakat yang menganggap donor darah sebagai proses sederhana perlu diluruskan. Hal ini karena setiap tahap memiliki standar keamanan tinggi yang tidak bisa diabaikan.

Hupitoyo juga menjelaskan adanya dua metode donor darah yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan. Metode tersebut adalah donor konvensional dan metode apheresis yang memiliki sistem pengambilan berbeda.

“Kalau apheresis, yang diambil hanya komponen yang dibutuhkan, sedangkan yang lain dikembalikan ke tubuh,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa metode apheresis menggunakan mesin khusus yang memisahkan komponen darah secara langsung. Proses ini memungkinkan pengambilan plasma atau sel tertentu tanpa harus mengambil seluruh darah pendonor.

Namun, metode ini membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan metode konvensional yang umumnya hanya sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Pada apheresis, prosesnya dapat berlangsung hingga satu setengah sampai dua jam.

Selain metode, syarat menjadi pendonor juga harus diperhatikan dengan baik oleh masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi usia minimal, berat badan, tekanan darah, serta kadar hemoglobin.

“Kalau hemoglobin tidak memenuhi syarat, maka pendonor tidak diizinkan untuk donor saat itu,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pendonor tidak boleh dalam kondisi sakit atau sedang mengonsumsi obat tertentu. Zat dalam obat tersebut dapat terbawa dalam darah dan memengaruhi kondisi penerima transfusi.

Menurutnya, kejujuran pendonor saat wawancara menjadi kunci dalam menjaga kualitas darah yang dihasilkan. Hal ini karena tidak semua kondisi kesehatan dapat langsung terdeteksi tanpa informasi dari pendonor.

“Yang penting dijaga adalah kondisi fisik tetap fit supaya tidak tertolak saat donor,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....