Mengenal Operasi Laparoskopi sebagai Penanganan Batu Empedu

  • 14 Apr 2026 19:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Bagi pasien yang telah didiagnosis memiliki batu empedu yang menimbulkan gejala, tindakan operasi pengangkatan kantong empedu sering kali menjadi pilihan terbaik. Di dunia medis modern, prosedur ini tidak lagi memerlukan sayatan besar di perut berkat teknik laparoskopi.

Dokter Spesialis Bedah Digestif Konsultan Rumah Sakit SMC Samarinda, Ahmad Tobroni Nasution, menjelaskan tujuan utama operasi ini adalah mengambil seluruh kantong empedu beserta batunya (cholecystectomy). Operasi dilakukan jika batu sudah menyebabkan nyeri berulang atau peradangan.

Terdapat dua metode utama yang umum digunakan, yaitu operasi terbuka konvensional dan operasi laparoskopi. Operasi laparoskopi kini lebih diminati karena menawarkan proses pemulihan yang jauh lebih cepat dan minim rasa sakit pasca-operasi.

Metode laparoskopi sering disebut sebagai operasi "lubang kunci" karena hanya memerlukan sayatan-sayatan kecil sebesar sekitar 5 milimeter. Melalui lubang ini, dokter memasukkan kamera dan instrumen bedah khusus untuk mengangkat kantong empedu.

"Laparoskopi itu yang bersifat minimal akses, minimal invasif. Lukanya lebih minimal, biasanya kita memakai kamera ke dalam perut. Paling lukanya itu bersifat sekitar 5 milimeter setiap tiga lubang," ucapnya dalam program Indonesia Sehat di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 14 April 2026.

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul di masyarakat adalah bagaimana fungsi tubuh jika kantong empedu diangkat. Banyak yang takut mereka tidak lagi memiliki cairan empedu untuk mencerna makanan setelah menjalani prosedur operasi ini.

Namun, ia memastikan, pasien tetap bisa hidup normal tanpa kantong empedu. Hal ini dikarenakan organ hati tetap memproduksi cairan empedu, hanya saja cairan tersebut kini langsung dialirkan ke usus tanpa melalui tempat penyimpanan sementara.

"Kantong empedu hanya kantongnya saja. Cairan empedunya tetap ada di hati, dikeluarkan ke situ. Jadi storagenya yang hilang tapi pabrik utamanya tetap masih ada," ujarnya.

Setelah operasi, pasien biasanya disarankan untuk menyesuaikan pola makan selama masa adaptasi. Gaya hidup sehat dengan porsi makan kecil namun sering tetap dianjurkan agar metabolisme tubuh tetap terjaga optimal meskipun tanpa organ penyimpanan empedu tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....