Dokter Spesialis Paru Tekankan Deteksi Dini Cegah TBC dan HIV
- 14 Apr 2026 12:24 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Upaya pencegahan penularan penyakit tuberkulosis (TBC) dan HIV di Kota Samarinda terus diperkuat melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Dalam kegiatan sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pencegahan dan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS yang digelar Selasa 14 April 2026 di Aula Kecamatan Samarinda Ulu, narasumber menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah paling efektif di tingkat masyarakat.
Dokter spesialis paru, dr. Yanti Evi Arlini Gultom mengatakan masyarakat perlu lebih peka terhadap gejala awal penyakit TBC. Menurutnya, keterlambatan penanganan sering terjadi karena gejala dianggap sepele, padahal dapat menjadi sumber penularan di lingkungan sekitar.
“Setiap kita mengalami ada keluhan seperti batuk lebih dari dua minggu ataupun penurunan berat badan atau sesak napas, batuk berdarah ataupun batuk tidak berdahak, napas berbunyi, intinya ada lima keluhan respirasi. Jadi tidak semuanya mesti sama, satu saja itu yang kita harus periksa ke puskesmas,” ujarnya.
Ia menegaskan, fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan. Dengan pemeriksaan lebih awal, pasien dapat segera mendapatkan penanganan sehingga risiko penyebaran TBC di lingkungan keluarga maupun masyarakat dapat ditekan.
Selain itu, ia juga menjelaskan keterkaitan antara TBC dan HIV yang menjadi perhatian serius dalam penanganan penyakit menular. Menurutnya, pasien dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC akibat kondisi sistem kekebalan tubuh yang menurun.
“Imunitasnya lemah, tentu imunitasnya,” katanya.
Dalam penanganan kasus koinfeksi TBC dan HIV, pengaturan terapi menjadi hal penting agar pengobatan berjalan efektif. Ia menyebutkan, pengobatan TBC dan HIV tetap dapat dilakukan secara bersamaan dengan pengaturan waktu konsumsi obat yang tepat.
“Beda satu jam atau dua jam, atau obat TBC-nya dimakan di malam hari,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat regulasi berbasis pencegahan. Melalui Raperda yang tengah disusun, diharapkan penanganan TBC dan HIV di Samarinda dapat dilakukan lebih terintegrasi, mulai dari edukasi, deteksi dini, hingga pengobatan berkelanjutan.
Di sisi lain, kondisi wilayah perkotaan seperti Samarinda dengan mobilitas tinggi dan kepadatan penduduk menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian penyakit menular. Oleh karena itu, keterlibatan aktif masyarakat, tenaga kesehatan, serta dukungan kebijakan daerah dinilai menjadi kunci dalam menekan angka kasus TBC dan HIV di masa mendatang.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri saat muncul gejala, diharapkan upaya pencegahan tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga mampu menekan potensi penularan sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....