Fenomena Narkoba Sebagai "Doping" Pekerja Pesisir di Tarakan

  • 31 Mar 2026 16:33 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN – Praktik penyalahgunaan narkoba di Kota Tarakan ternyata memiliki motif yang spesifik, terutama di kalangan pekerja sektor fisik. Psikolog Klinis, Rahma Fitra, mengungkapkan bahwa banyak klien yang ditanganinya berasal dari daerah pesisir yang menggunakan sabu bukan untuk kesenangan, melainkan sebagai penambah stamina kerja. Fenomena ini menunjukkan adanya miskonsepsi berbahaya di mana narkoba dianggap sebagai suplemen pendukung produktivitas.

Banyak pekerja yang kurang teredukasi merasa bahwa dengan mengonsumsi sabu, mereka memiliki energi tambahan untuk bekerja lembur atau melakukan aktivitas fisik yang berat. Hal ini sering kali didorong oleh informasi keliru dari lingkungan kerja yang menyebut zat tersebut sebagai obat kuat. Padahal, penggunaan narkoba sebagai stimulan justru akan merusak sistem saraf dan metabolisme tubuh dalam jangka panjang.

"Klien atau pasien narkoba dengan berbagai tingkat keparahan ini motif penggunaannya macam-macam. Kalau biasanya yang kita banyak temukan di daerah pesisir, itu biasanya untuk bekerja sebagai doping," ungkap Rahma Fitra memetakan fenomena tersebut.

Dampak dari pola pikir ini sangat fatal karena pengguna cenderung tidak merasakan lelah yang wajar, sehingga memaksakan tubuh bekerja di luar batas kemampuan. Ketika efek zat tersebut hilang, tubuh akan mengalami penurunan kondisi yang drastis. Edukasi yang menyasar sektor pekerja fisik dan pesisir menjadi sangat mendesak untuk meluruskan persepsi bahwa narkoba bukanlah solusi untuk performa kerja.

"Di mindset-nya klien, dia merasa bahwa itu obat, just like suplemen. Jadi pola pikir yang menggampangkan seperti itu akhirnya perlahan-lahan membuat individu jadi gampang menyalahgunakan," tambah Rahma mengenai kesalahan persepsi pasien.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....