Wamen Komdigi: Humas Jadi Clearing House Informasi Ditengah Disinformasi Global
- 14 Jul 2026 12:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan peran humas semakin penting di tengah derasnya arus disinformasi, misinformasi, serta perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang mengubah lanskap komunikasi global.
Menurut Nezar, humas saat ini tidak lagi cukup hanya berperan sebagai penyampai informasi. Humas harus mampu menjadi clearing house of information atau penjernih informasi yang bertugas memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, akurat, dan dapat dipercaya.
Dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital, Selasa 14 Juli 2026, pernyataan tersebut disampaikan Nezar dalam acara Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Antara Heritage, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu 11 Juli 2026.
"Peran humas menjadi sangat penting ketika gangguan dalam lanskap komunikasi semakin besar. Disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian hadir begitu deras melalui perangkat digital yang setiap hari kita gunakan," ujar Nezar.
Ia menambahkan, humas memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan publik dengan menghadirkan komunikasi yang transparan dan berbasis fakta. Menurutnya, kemampuan memilah serta menjernihkan informasi menjadi kebutuhan penting di era digital.
Nezar menilai dunia saat ini telah memasuki era post-truth, yaitu kondisi ketika batas antara fakta dan opini semakin kabur. Dalam situasi tersebut, persepsi publik sering kali lebih mudah dipengaruhi oleh sentimen dibandingkan kebenaran informasi.
Perubahan pola konsumsi informasi juga semakin diperkuat oleh perkembangan platform digital. Telepon pintar kini menjadi salah satu sumber utama masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi setiap hari.
Ia mengutip kajian World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global yang perlu mendapat perhatian serius. Kajian tersebut berdasarkan pandangan para pemimpin dunia dan pelaku industri mengenai berbagai ancaman global dalam beberapa tahun mendatang.
"Disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Karena itu, organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi yang sangat strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel dan meningkatkan kualitas komunikasi publik," kata Nezar.
Di sisi lain, Nezar melihat perkembangan AI memberikan peluang besar bagi dunia kehumasan. Teknologi tersebut dapat membantu praktisi humas dalam menganalisis sentimen publik secara waktu nyata, menjaga konsistensi pesan, hingga meningkatkan kualitas penyampaian cerita (storytelling).
Berdasarkan studi One Asia Communications 2025, praktisi humas di Asia semakin banyak memanfaatkan AI untuk mendukung berbagai aktivitas komunikasi. Namun, Nezar mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap disertai tata kelola yang baik dan berlandaskan etika.
"Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat. Namun, kepercayaan publik dibangun oleh integritas, empati, dan ketulusan. Sampai hari ini, AI masih belum mampu menghadirkan sincerity, yaitu ketulusan yang menjadi unsur penting dalam komunikasi manusia," ujarnya.
Nezar berharap insan humas dapat terus memperkuat kompetensi dalam menghadapi perubahan teknologi sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap proses komunikasi publik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....