Dari Sekolah Darurat, Classroom of Hope Bangun Harapan Baru di NTB

  • 03 Jul 2026 18:39 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Delapan tahun lalu, gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok merobohkan ribuan bangunan, termasuk ratusan sekolah. Di tengah kondisi darurat saat itu, Classroom of Hope hadir membangun ruang-ruang belajar sementara agar proses pendidikan tidak terhenti.

Kini, perjalanan tersebut memasuki babak baru. Peresmian Sekolah Blok ke-50 di SDN 4 Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Jumat 3 Juli 2026, menjadi penanda bagaimana sebuah gerakan kemanusiaan pascabencana berkembang menjadi model pembangunan pendidikan berkelanjutan yang memadukan inovasi, kepedulian lingkungan, dan kolaborasi lintas negara.

CEO Classroom of Hope Australia, Tanya Armstrong, mengatakan program yang awalnya berfokus pada penanganan darurat kini telah berkembang jauh melampaui tujuan awalnya.

Menurutnya, setelah melihat besarnya kebutuhan ruang belajar yang aman bagi anak-anak di Lombok, Classroom of Hope bersama berbagai mitra mulai mengembangkan konsep pembangunan sekolah permanen menggunakan material berbahan plastik daur ulang yang tahan gempa.

"Kami memulai perjalanan ini sebagai respons terhadap bencana. Namun hari ini kami melihat bahwa apa yang dibangun bukan sekadar sekolah, melainkan sebuah model yang dapat diterapkan di berbagai daerah," jelasnya.

Tanya menjelaskan, hingga saat ini Classroom of Hope bersama Philips Foundation Australia, Happy Hearts Indonesia, Block Solutions Indonesia, pemerintah, dan berbagai mitra lainnya telah membangun 50 sekolah, 184 ruang kelas, serta lebih dari 80 fasilitas sanitasi di Pulau Lombok.

Tak hanya membangun infrastruktur pendidikan, organisasi tersebut juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari edukasi pengelolaan sampah, pelatihan guru, perlindungan anak, hingga pencegahan pernikahan dini.

Menurutnya, pembangunan sekolah harus mampu memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan bangunan fisik.

"Kami ingin menciptakan lingkungan belajar yang aman sekaligus membangun komunitas yang lebih kuat. Ketika pendidikan, lingkungan, dan masyarakat berkembang bersama, dampaknya akan jauh lebih besar," terangnya.

Founder Philips Foundation Australia, Anthony, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan mampu menghasilkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Ia menilai pencapaian Classroom of Hope tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang berhasil dibangun, tetapi juga dari kuatnya kolaborasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat lokal, guru, orang tua, hingga para pekerja konstruksi.

"Semua pihak memiliki peran penting. Ketika masyarakat ikut terlibat dalam proses pembangunan, mereka juga memiliki rasa memiliki terhadap sekolah yang dibangun," ujarnya.

Anthony menambahkan, pembangunan sekolah berbahan plastik daur ulang juga membuktikan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi solusi bagi dunia pendidikan.

Sementara itu, Kepala SDN 4 Wakan, Nursaid, mengaku bangga sekolahnya dipercaya menjadi lokasi peresmian Sekolah Blok ke-50.

Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi SDN 4 Wakan, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang sejak lama menginginkan fasilitas belajar yang lebih aman.

Ia mengatakan sekolah semula hanya mengajukan rehabilitasi tiga ruang kelas. Namun melalui program Classroom of Hope, sekolah justru memperoleh empat ruang kelas baru yang dibangun dengan teknologi tahan gempa.

"Bagi kami, bangunan ini bukan hanya ruang kelas baru. Ini adalah simbol harapan baru bagi anak-anak untuk belajar dengan aman dan nyaman," ucapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat hanya bergantung pada kemampuan pemerintah.

Di tengah masih besarnya kebutuhan rehabilitasi sekolah dan keterbatasan anggaran daerah, kemitraan dengan lembaga filantropi dan dunia usaha dinilai menjadi salah satu solusi yang efektif.

"Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah, donor, dan masyarakat memiliki tujuan yang sama, hasilnya benar-benar dapat dirasakan langsung oleh sekolah dan peserta didik," kata Bayan.

Ia berharap model kemitraan yang dibangun Classroom of Hope dapat terus berkembang sehingga semakin banyak sekolah memperoleh manfaat serupa.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi. Ia mengatakan perjalanan Classroom of Hope dari membangun sekolah darurat hingga menjadi salah satu model pembangunan sekolah berkelanjutan merupakan contoh nyata bagaimana inovasi lahir dari sebuah bencana.

Menurutnya, konsep sekolah berbahan plastik daur ulang tidak hanya menghadirkan bangunan yang aman dan tahan gempa, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan sampah plastik yang menjadi tantangan lingkungan saat ini.

"Ini membuktikan bahwa pendidikan, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Kami berharap model seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak daerah dalam membangun sekolah yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan," kata Syamsul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....