Kolaborasi Internasional Sulap 263 Ton Sampah Jadi Sekolah Tahan Gempa di NTB
- 03 Jul 2026 16:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Tumpukan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan ternyata dapat diubah menjadi solusi pembangunan pendidikan. Hal itu dibuktikan melalui peresmian Sekolah Blok ke-50 di SDN 4 Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Jumat 3 Juli 2026, yang dibangun menggunakan material bata plastik hasil daur ulang.
Pembangunan sekolah tersebut merupakan hasil kolaborasi Classroom of Hope, Philips Foundation Australia, Happy Hearts Indonesia, Block Solutions Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.
Selain menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, proyek tersebut juga berhasil mendaur ulang sekitar 263 ton sampah plastik menjadi material bangunan yang kokoh, tahan gempa, dan ramah lingkungan.
CEO Classroom of Hope Australia, Tanya Armstrong, mengatakan peresmian di SDN 4 Wakan menjadi pencapaian penting karena menandai berdirinya sekolah blok ke-50 sejak program tersebut dimulai pascagempa Lombok 2018.
"Hari ini bukan hanya pembukaan sekolah di SDN 4 Wakan. Ini merupakan sekolah blok ke-50 yang telah kami bangun bersama para mitra. Hingga saat ini sudah ada 184 ruang kelas dan 80 fasilitas sanitasi yang berhasil kami bangun untuk anak-anak di Lombok," jelasnya.
Menurut Tanya, pembangunan sekolah tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengatasi krisis sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.
Sebanyak 263 ton sampah plastik yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini telah diolah menjadi bahan bangunan berkualitas tinggi.
"Artinya kami tidak hanya membantu anak-anak belajar di ruang yang aman, tetapi juga membersihkan lingkungan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan bersama," terangnya.
Ia menjelaskan, sejak bermula sebagai program tanggap darurat pascagempa tahun 2018, Classroom of Hope kini mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif. Selain membangun sekolah, organisasi tersebut juga menjalankan program literasi lingkungan, pengelolaan sampah, pencegahan pernikahan dini, perlindungan hak anak, hingga pelatihan guru.
Tanya berharap konsep sekolah berbahan plastik daur ulang tersebut dapat menjadi model pembangunan yang diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia.
"Kami percaya model ini dapat direplikasi. Ketika anak-anak merasa aman di sekolah, mereka dapat belajar lebih baik dan membangun masa depan yang lebih cerah," ungkapnya.
Founder Philips Foundation Australia, Anthony, mengatakan inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah plastik memiliki nilai yang jauh lebih besar apabila dikelola secara tepat.
Ia menilai pendidikan menjadi hasil akhir dari sebuah proses panjang yang melibatkan inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
"Teknologi daur ulang ini bukan hanya menghasilkan sekolah. Kami juga menciptakan lapangan pekerjaan lokal, mengurangi sampah plastik, dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar di tempat yang lebih aman," katanya.
Anthony mengungkapkan seluruh program bermula dari kepedulian terhadap anak-anak yang kehilangan ruang belajar akibat bencana. Karena itu, pihaknya berkomitmen terus mendukung pembangunan sekolah yang mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
"Kami percaya pendidikan adalah investasi terbaik. Ketika anak-anak bisa terus belajar, mereka akan mampu meraih cita-citanya," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi, mengatakan konsep sekolah blok berbahan plastik daur ulang menjadi inspirasi baru bagi pemerintah daerah dalam menjawab persoalan lingkungan.
Menurutnya, selama ini sampah plastik selalu dipandang sebagai masalah. Namun melalui inovasi tersebut, limbah justru berubah menjadi solusi pembangunan infrastruktur pendidikan.
"Persoalan lingkungan ternyata penyelesaiannya ada pada diri kita sendiri. Bangunan ini menjadi bukti bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat," katanya.
Syamsul berharap inovasi serupa tidak berhenti pada pembangunan ruang kelas, tetapi berkembang menjadi berbagai solusi lain dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di NTB.
"Kami ingin semangat inovasi ini terus tumbuh sehingga persoalan lingkungan dapat diselesaikan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan," tuturnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, turut mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, sekolah-sekolah yang dibangun melalui kerja sama dengan para donor internasional tidak hanya memiliki desain yang menarik, tetapi juga kualitas bangunan yang sangat baik.
Ia menyebut konstruksi sekolah dirancang tahan gempa dan memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dibanding bangunan konvensional.
"Ini menjadi investasi jangka panjang bagi dunia pendidikan di Lombok Timur. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut karena masih banyak sekolah yang membutuhkan rehabilitasi," katanya.
Bagi SDN 4 Wakan, pembangunan empat ruang kelas baru membawa manfaat besar bagi aktivitas belajar mengajar.
Kepala SDN 4 Wakan, Nursaid, mengatakan para siswa kini tidak lagi dihantui rasa khawatir saat mengikuti proses pembelajaran sebagaimana ketika masih menggunakan bangunan lama pascagempa.
Ia mengaku bangunan baru memberikan rasa aman sekaligus menjadi kebanggaan bagi seluruh warga sekolah.
"Bangunan ini akan kami manfaatkan sebaik-baiknya demi meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak kami. Semoga menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus belajar dan berprestasi," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....