Sekolah Blok ke-50 Diresmikan, 184 Ruang Kelas Ramah Lingkungan Hadir untuk Siswa

  • 03 Jul 2026 16:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Harapan baru bagi dunia pendidikan di Nusa Tenggara Barat kembali terwujud. SDN 4 Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, menjadi lokasi peresmian Sekolah Blok ke-50 hasil kolaborasi Classroom of Hope, Philips Foundation Australia, Happy Hearts Indonesia, Block Solutions Indonesia, Pemerintah Daerah, serta sejumlah mitra, pada Jumat 3 Juli 2026.

Peresmian tersebut bukan sekadar menandai selesainya pembangunan empat ruang kelas baru di SDN 4 Wakan, tetapi juga menjadi tonggak penting perjalanan pembangunan pendidikan pascagempa Lombok 2018. Hingga kini, kemitraan tersebut telah menghadirkan 184 ruang kelas dan lebih dari 80 fasilitas sanitasi di berbagai sekolah di Pulau Lombok melalui konsep bangunan berbahan dasar plastik daur ulang yang tahan gempa.

Mewakili Gubernur NTB, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi mengatakan, keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa persoalan pendidikan dan lingkungan dapat diselesaikan secara bersamaan melalui inovasi dan kolaborasi.

"Hari ini bukan sekadar meresmikan satu gedung sekolah. Ini adalah simbol perjalanan panjang tentang harapan, ketangguhan, dan semangat membangun kembali pendidikan di Nusa Tenggara Barat setelah bencana gempa," ujarnya.

Menurut Syamsul, pembangunan sekolah blok telah memberikan manfaat besar bagi ribuan peserta didik sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan lebih dari 263 ton sampah plastik menjadi material bangunan yang kokoh dan ramah lingkungan.

Ia menilai model pembangunan tersebut layak menjadi inspirasi karena mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni keterbatasan infrastruktur pendidikan dan persoalan sampah plastik.

"Persoalan lingkungan ternyata solusinya ada pada diri kita sendiri. Sampah plastik yang selama ini menjadi masalah dapat diubah menjadi bangunan sekolah yang aman dan bermanfaat bagi generasi mendatang," katanya.

CEO Classroom of Hope Australia, Tanya Armstrong, mengatakan pencapaian sekolah blok ke-50 merupakan momentum bersejarah bagi organisasinya. Program yang berawal dari pembangunan sekolah darurat pascagempa kini berkembang menjadi model pembangunan sekolah berkelanjutan yang dapat diterapkan di berbagai daerah.

Ia menjelaskan, hingga saat ini kemitraan Classroom of Hope bersama Happy Hearts Indonesia dan Block Solutions telah membangun 184 ruang kelas serta 80 fasilitas sanitasi dengan memanfaatkan sekitar 263 ton sampah plastik yang berhasil dikeluarkan dari lingkungan.

"Hari ini bukan hanya peresmian sekolah di SDN 4 Wakan. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi kami karena menunjukkan bahwa anak-anak dapat belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, sekaligus membantu membersihkan lingkungan," ungkapnya.

Acara Peresmian Sekolah Blok ke-50 di SDN 4 Wakan.

Selain membangun ruang kelas, program tersebut juga menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, mulai dari pendidikan lingkungan, pengelolaan sampah, pencegahan pernikahan dini, perlindungan hak anak, hingga peningkatan kapasitas guru.

Menurut Tanya, keberhasilan itu membuktikan bahwa pembangunan sekolah tidak hanya menghasilkan gedung baru, tetapi juga memperkuat kualitas pendidikan dan kehidupan masyarakat sekitar.

"Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah Indonesia sehingga semakin banyak anak yang memperoleh ruang belajar yang aman," ujarnya.

Founder Philips Foundation Australia, Anthony, menyebut seluruh perjalanan tersebut berawal dari sebuah gagasan sederhana, yakni memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar di lingkungan yang aman.

Ia mengaku terinspirasi setelah melihat masih banyak anak di berbagai negara kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan akibat bencana maupun keterbatasan fasilitas.

"Pendidikan adalah investasi terbaik. Melalui pendidikan, anak-anak dapat meraih potensi terbaik mereka dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka," katanya.

Anthony menambahkan, proyek pembangunan sekolah juga memberikan manfaat ekonomi karena melibatkan tenaga kerja lokal serta memperkuat semangat gotong royong masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan sekolah blok merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, donor, kontraktor, guru hingga masyarakat setempat.

"Ini adalah keberhasilan seluruh komunitas. Kami hanya menjadi bagian dari perjalanan besar itu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN 4 Wakan, Nursaid, mengaku pembangunan empat ruang kelas baru menjadi hadiah besar bagi sekolah yang sebelumnya hanya mengajukan rehabilitasi tiga ruang kelas.

Ia menceritakan, usulan rehabilitasi diajukan pada pertengahan 2025. Namun beberapa bulan kemudian sekolah justru memperoleh kabar akan dibangunkan empat ruang kelas baru lengkap dengan fasilitas pendukung.

Yang lebih mengejutkan, seluruh proses pembangunan hanya memerlukan waktu sekitar tiga minggu hingga bangunan selesai.

"Ini pengalaman pertama kami melihat pembangunan sekolah secepat itu. Yang kami usulkan hanya rehabilitasi tiga ruang kelas, tetapi justru diberikan empat ruang kelas baru yang jauh lebih baik," tuturnya.

Nursaid mengatakan bangunan baru tersebut memiliki konstruksi tahan gempa sehingga mampu memberikan rasa aman bagi guru maupun peserta didik yang selama ini masih menyimpan trauma akibat gempa Lombok 2018.

Ia memastikan seluruh fasilitas akan dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

"Semoga bangunan ini menjadi penyemangat baru bagi anak-anak kami untuk belajar dan meraih prestasi yang lebih baik," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, menyampaikan apresiasi atas kontribusi para donor internasional yang telah membantu pemerintah mempercepat rehabilitasi sekolah.

Ia mengungkapkan, keterbatasan kemampuan fiskal daerah membuat kebutuhan rehabilitasi sekolah masih sangat besar. Saat ini masih terdapat sekitar 145 sekolah dasar di Lombok Timur yang membutuhkan perbaikan, sementara kemampuan pemerintah baru mampu menangani sebagian kecil di antaranya.

Karena itu, ia berharap kolaborasi bersama lembaga internasional seperti Classroom of Hope dan Philips Foundation dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak sekolah memperoleh fasilitas belajar yang aman dan berkualitas.

"Kami berharap kemitraan ini tidak berhenti sampai di sini. Masih banyak sekolah yang membutuhkan rehabilitasi demi memberikan lingkungan belajar yang layak bagi anak-anak Lombok Timur," ucapnya.

Peresmian sekolah blok ke-50 tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa pemulihan pendidikan pascagempa di NTB tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan inovasi ramah lingkungan, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta membangun masa depan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....