Uskup Hans Kembali Menjadi Gembala di Tanah Kelahiran
- 11 Feb 2026 14:53 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Ribuan umat memadati Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka dan halaman sekitarnya, Rabu (11/2/2026). Di bawah langit Flores Timur yang cerah, doa-doa dan nyanyian liturgis mengalun khidmat, mengiringi momen bersejarah bagi Keuskupan Larantuka: tahbisan episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro.
Ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Larantuka setelah penunjukan oleh Paus Leo XIV pada 22 November 2025, Mgr. Hans menerima kepenuhan Sakramen Tahbisan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Emeritus Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, sebagai Uskup Penahbis.
Ia didampingi Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, dan Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Lebih dari 5.000 umat hadir, bersama para uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia, perwakilan Kedutaan Besar Vatikan, Kardinal Ignatius Suharyo, serta sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah.
Momentum iman ini bukan hanya menjadi peristiwa gerejawi, tetapi juga peristiwa sosial yang menegaskan kuatnya relasi antara Gereja dan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Dalam sambutan resepsi tahbisan, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan makna mendalam dari perayaan tersebut.
Ia mengangkat kembali pesan yang bergema dalam bacaan, homili, dan sambutan sang uskup baru: Gereja dipanggil untuk memihak mereka yang kecil dan terpinggirkan. “Kita sama-sama diingatkan untuk melihat bahwa harta karun Gereja adalah orang-orang yang susah. Harta karun Gereja bukan mereka yang berkelebihan, tetapi mereka yang susah, yang miskin, yang hidupnya terpinggirkan,” ujar Gubernur Melki.
Menurutnya, pesan ini selaras dengan moto episkopal Mgr. Hans Monteiro, “Unum corpus, unus spiritus, una spes” — satu tubuh, satu roh, satu harapan. Seruan tersebut menjadi undangan bagi seluruh umat untuk hidup dalam persekutuan, solidaritas, dan kepedulian nyata.
Gubernur juga menegaskan bahwa Gereja Katolik merupakan salah satu pilar penting pembangunan di NTT. Dengan komposisi umat Katolik lebih dari 50 persen, kontribusi Gereja dalam pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat dinilai sangat strategis.
Menurutnya, peristiwa iman ini kiranya semakin mempererat kerja sama antara pemerintah dan Gereja Katolik demi NTT yang lebih baik. Ia turut mengajak para tamu untuk mendukung produk-produk UMKM lokal melalui NTT Mart sebagai wujud keberpihakan pada ekonomi rakyat.
Senada dengan itu, mewakili Menteri Agama RI, Dirjen Bimas Katolik Suparman menegaskan bahwa tahbisan ini bukan hanya anugerah bagi Gereja, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. “Hari ini, atas kuasa Roh Kudus, kita menyaksikan Gereja Katolik Larantuka menerima seorang Uskup. Tetapi pada saat yang sama, Indonesia juga menerima seorang pemimpin moral baru. Kami percaya bahwa tahbisan ini akan melahirkan energi baru bagi pelayanan Gereja dan kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya.
Ia menyoroti spiritualitas Mgr. Hans yang memilih kembali dan mengabdi di tanah kelahirannya. “Inilah spiritualitas seorang gembala, pergi untuk belajar, pulang untuk mengabdi,” katanya
Dalam sambutannya yang sarat refleksi teologis dan kenangan personal, Mgr. Yohanes Hans Monteiro berdiri dengan kerendahan hati di hadapan umatnya. “Dengan hati penuh syukur dan kerendahan hati pada hari yang penuh rahmat ini, saya berdiri di hadapan Anda sekalian sebagai seorang Uskup yang baru ditahbiskan, bukan oleh kehendak saya sendiri, melainkan oleh panggilan dan rahmat Allah melalui Gerejanya. Tahbisan episkopal bukan pertama-tama suatu kehormatan pribadi, melainkan sebuah pelayanan bagi Gereja,” tuturnya.
Mengutip ajaran Lumen Gentium 21, ia menegaskan bahwa tahbisan episkopal adalah kepenuhan Sakramen Tahbisan yang menempatkan seorang uskup dalam kesinambungan para rasul. Roh Kudus, Spiritus principalis, dicurahkan agar ia mampu menggembalakan umat, bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pelayan persekutuan.
Suasana haru menyelimuti katedral ketika ia mengenang perjalanan imannya yang berakar di tempat itu. Sebagai “anak Nagi, anak Kota Reinha”, Gereja Katedral Reinha Rosari bukan sekadar bangunan baginya, melainkan saksi hidup perjalanan panggilan yang kini mencapai babak baru.
“Tahbisan ini berlangsung di Katedral Larantuka, tempat saya dipermandikan, tempat saya menerima komuni pertama, tempat saya menerima sakramen tobat pertama, tempat saya menerima sakramen krisma, tempat saya ditahbiskan menjadi imam” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., mengingatkan umat akan pentingnya menjaga kesatuan, terutama di tengah tantangan zaman. “Gereja tidak akan hancur karena serangan dari luar. Yang harus diwaspadai serangan dari dalam,” katanya.
Moto episkopal unum corpus, unus spiritus, una spes dinilai sebagai fondasi kuat untuk merawat Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Ia mengibaratkan Gereja seperti tenun Flores Timur: satu kain, tetapi tersusun dari aneka warna dan motif.
Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung pun mengajak seluruh umat Keuskupan Larantuka untuk bersatu di bawah kepemimpinan gembala baru, melanjutkan karya pelayanan yang telah dirintis selama ini. Tahbisan episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro menjadi penanda babak baru perjalanan Gereja Larantuka—sebuah Gereja yang berakar kuat dalam sejarah, bertumbuh dalam iman, dan dipanggil untuk semakin berpihak pada mereka yang kecil dan lemah.
Di tanah yang menyimpan sejarah panggilannya, seorang anak daerah kini kembali sebagai gembala. Dengan semangat satu tubuh, satu roh, satu harapan, ia melangkah bersama umat, merawat “harta karun” Gereja: orang-orang sederhana yang setia berharap. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....