Jemaah Calon Haji Termuda di Bondowoso Berusia 15
- 13 Mei 2026 14:06 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso - Nafesa Aryasatya Kayana (15) menjadi calon jemaah haji (CJH) termuda asal Kabupaten Bondowoso tahun ini. Remaja yang karib disapa Kaka tersebut lahir di Lumajang pada 25 September 2011 dan saat ini masih duduk di bangku kelas VIII MTs At Taqwa Bondowoso.
Remaja asal Desa Sumbersuko, Kecamatan Klabang ini tergabung dalam kloter 86 yang berangkat pada 12 Mei 2026. Menjelang keberangkatan, Kaka tampak beberapa kali turun dari bus untuk menyapa ibu dan keluarganya. Di dalam bus, ia memilih duduk di barisan paling belakang, membaur bersama CJH lainnya yang mayoritas berusia 40 tahun ke atas.
Kehadiran Kaka rupanya mendapat perhatian khusus dari jemaah lain yang tampak akrab dan perhatian menjaganya agar tidak tertinggal.
"Kaka mana? Sudah masuk kan, ya?" tanya salah seorang jemaah memastikan keberadaannya.
Kaka merupakan jemaah haji limpahan dari almarhum ayahnya, Serka Nanang Cahyo Febriantoro, yang meninggal dunia akibat kecelakaan pada Agustus 2021. Saat itu, Kaka masih duduk di bangku kelas III SD.
"Ayah dulu yang daftar," ujar putra pertama dari pasangan Hj. Felan Dia Aquristin dan almarhum Serka Nanang ini.
Meski menjadi yang paling muda, Kaka tak ingin menyusahkan jemaah lain. Ia mengaku telah mengikuti berbagai rangkaian persiapan dan manasik haji agar dapat beribadah dengan benar dan khusyuk selama di Tanah Suci.
Selain persiapan mental, ia juga rutin berolahraga untuk menjaga stamina.
"Olahraga saja (persiapannya)," tuturnya singkat.
Ia juga berencana mendoakan orang tua, guru, dan teman-temannya di sana. "Doakan orang tua, Mama sudah duluan haji. Doakan teman-teman, guru juga, dan saudara agar bisa segera ke Tanah Suci juga," tambahnya.
Ibunda Kaka, Hj. Felan Dia Aquristin, menceritakan bahwa pendaftaran haji ini sebenarnya adalah hadiah ulang tahun dari nenek Kaka untuk dirinya dan suami, tepat seminggu setelah Kaka lahir.
Seharusnya, Felan dan suaminya berangkat pada 2021. Namun, keberangkatan tertunda karena pandemi Covid-19. Di tahun yang sama, sang suami wafat, sehingga kursi haji tersebut dilimpahkan kepada Kaka.
Rencana berangkat bersama pada 2023 pun sempat terkendala aturan minimal usia 12 tahun dari Kementerian Agama.
Saat Kaka mencapai usia tersebut pada 2024, mereka kembali gagal berangkat bersama karena adanya aturan baru terkait minimal usia 18 tahun untuk pendampingan.
"Akhirnya saya memilih berangkat sendiri (lebih dulu). Bagaimana dengan anak saya ini, ya sudah, apa kata nanti (mengikuti jadwalnya)," ungkap Felan yang merupakan owner dari Kayana Organizer Rias Pengantin.
Dukungan mengalir deras untuk Kaka, mulai dari keluarga, tetangga, guru dan teman sekolah hingga komunitas almarhum ayahnya.
Mereka berganti datang ke rumah Kaka untuk mendoakan dan membantu persiapan keberangkatan putranya.
"Alhamdulillah semuanya mendukung," jelasnya.
Sepekan sebelum berangkat, sang ibu memastikan Kaka mengurangi aktivitas bermain.
Namun, Kaka tetap rutin berolahraga kasti di desanya untuk menjaga fisik. Olahraga yang dipilih anaknya yakni bermain kasti.
Saking cintanya pada olahraga tersebut, Kaka bahkan membawa jersey klub kastinya, Panasakti, ke Tanah Suci.
"Bawa jersey baju kastinya itu," ujar wanita
Selain beribadah, Kaka membawa misi pribadi. Ia bercita-cita mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara.
"Dia bilang ke saya dan kakek neneknya, 'Aku cuma minta satu ya Allah, aku bisa tembus Akmil'. Dia ingin mengejar cita-cita seperti papanya," cerita Felan dengan haru.
Meski berat melepas anaknya selama 40 hari, Felan mengakui bahwa Kaka justru lebih tegar dibanding dirinya.
"Yang menangis justru saya. Kaka malah bilang, 'Mama jangan menangis, Kaka ke sana kan mau ibadah'," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....