Kisah Ibu Rumah Tangga di Samarinda yang Sukses Kembangkan Hobi Masak Jadi Cuan
- 05 Mei 2026 14:48 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Di tengah beragam pilihan jenis usaha, sektor kuliner menjadi salah satu yang paling diminati karena fleksibilitas dan peluang pasarnya yang luas.
Hal ini juga dirasakan oleh seorang pelaku UMKM, Nur Asiah, yang memulai bisnisnya dari dapur rumah. “Semua usaha saya lakukan, memang banyak di UMKM. Kenapa saya memilih usaha kuliner? Karena berangkat dari hobi,” ujar Nur Asiah kepada RRI, saat dialog dalam program UMKM Bicara Pro1 Samarinda, dikutip Selasa 5 Mei 2026
Ketertarikan pada dunia memasak menjadi alasan utama dalam memilih usaha kuliner. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi untuk bekerja di sektor formal. “Karena mau usaha kantoran, saya enggak tinggi sekolahnya,” kata dia sambil tertawa. Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi motivasi untuk menggali potensi diri melalui aktivitas yang sudah akrab dalam kesehariannya.
Sebagai ibu rumah tangga, dapur bukanlah tempat asing. Justru dari sanalah ide usaha mulai tumbuh. “Berangkat dari hobi saya suka di dapur, suka uprek-uprek di dapur,” ucapnya. Aktivitas harian tersebut kemudian dikembangkan menjadi peluang bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan tanpa harus meninggalkan rumah.
Motivasi terbesar dalam menjalankan usaha ini adalah keinginan untuk tetap menjalankan peran utama sebagai ibu sekaligus membantu perekonomian keluarga. “Gimana bisa menghasilkan cuan dari rumah tanpa meninggalkan anak-anak, karena tugas utama kita kan di rumah,” ujarnya. Dengan tekad tersebut, ia mulai merintis usaha kecil-kecilan dari dapurnya sendiri.
Dalam menjalankan usaha, ia tidak selalu bekerja sendiri. Saat pesanan meningkat dalam jumlah besar, ia melibatkan tetangga sekitar sebagai tenaga bantuan. “Kalau orderan ribuan, saya panggil tetangga untuk bantuin, freelance gitu,” katanya. Langkah ini tidak hanya membantu kelancaran produksi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Dari segi pengemasan produk, ia juga terus berinovasi agar produknya memiliki daya tarik di pasaran. “Kalau abon identik dengan warna cokelat, jadi saya pilih warna golden brown,” ucapnya.
Ia juga menambahkan unsur motif khas Kalimantan Timur pada desain kemasan untuk memperkuat identitas produk lokal. Hal ini menjadi strategi branding yang efektif untuk menarik perhatian konsumen.
Perjalanan usaha tentu tidak instan. Ia memulai dengan kemasan sederhana sebelum akhirnya berkembang seperti sekarang. “Awalnya cuma pakai standing pouch polos, dikasih stiker,” kata dia. Seiring waktu, ia mengikuti berbagai pelatihan dari dinas dan program rumah BUMN yang membantunya meningkatkan kualitas desain dan kemasan produk.
Dari sisi produksi, usaha ini juga mengalami perkembangan signifikan. “Dulu masih pakai alat sederhana, semua manual sesuai kemampuan,” ujarnya. Kini, berkat konsistensi dan peningkatan permintaan, ia sudah menggunakan peralatan semi-modern untuk mendukung efisiensi produksi.
Dalam hal pemasaran, ia memanfaatkan berbagai cara, mulai dari mengikuti bazar hingga memanfaatkan jaringan reseller dan media sosial. “Sering ikut bazar, terus ada reseller dari teman-teman juga,” ucapnya. Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan.
Kisah ini menjadi bukti usaha kuliner rumahan memiliki peluang besar untuk berkembang. Dengan memanfaatkan hobi, kreativitas, dan kemauan belajar, siapa pun dapat memulai bisnis dari rumah. Tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....