UMKM Terpukul, Dampak Ekonomi Global dan Geopolitik

  • 27 Apr 2026 09:53 WIB
  •  Mataram

RRI CO.ID, Dompu - Dampak dinamika geopolitik dan geoekonomi global kembali dirasakan hingga ke tingkat pelaku usaha kecil. Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang sempat mengemuka, memicu lonjakan harga berbagai kebutuhan di pasaran dan membuat pelaku UMKM meradang.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pokok, tetapi juga merembet ke berbagai kebutuhan pendukung usaha. Kondisi ini semakin menekan pelaku UMKM yang sudah lebih dulu berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Tustiani, pelaku UMKM yang menggeluti bisnis dendeng sapi, mengaku merasakan langsung dampak dari situasi tersebut.

Ia menyebut, sejumlah bahan penunjang usaha mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat.

“Harga mika untuk kemasan saja naik dari Rp11 ribu per 50 biji menjadi Rp17.500. Belum lagi kemasan kedap udara yang harus didatangkan dari luar daerah, ikut naik juga,” ungkapnya, Senin, 27 April 2027.

Tak hanya itu, kebutuhan bahan pokok utama seperti bumbu-bumbu juga mengalami kenaikan harga, sehingga semakin menambah beban biaya produksi. Kondisi ini, menurutnya, sudah menjadi semacam pola yang berulang setiap kali muncul isu kenaikan BBM.

“Kalau sudah ada isu BBM naik, biasanya harga-harga langsung ikut naik di pasaran. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan, meskipun berat,” ujarnya.

Di tengah lonjakan biaya produksi, Tustiani mengaku tidak berani menaikkan harga jual produknya. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain jika harga dinaikkan.

“Pasrah saja, karena ini untuk kebutuhan hidup. Tapi kami tidak berani menaikkan harga, takut ditinggalkan pelanggan. Akhirnya keuntungan yang didapat sangat minim,” katanya.

Situasi tersebut diperparah dengan lesunya pasar online dalam satu bulan terakhir. Tustiani mengungkapkan, hampir tidak ada pesanan yang masuk dari platform digital, sehingga saat ini ia hanya mengandalkan penjualan secara langsung (offline).

“Biasanya online masih bisa diandalkan, tapi sekarang justru sepi. Dalam sebulan terakhir, nyaris tidak ada orderan dari online,” keluhnya.

Ia bahkan menilai kondisi saat ini lebih berat dibandingkan saat pandemi Covid-19. Jika pada masa pandemi penjualan online masih cukup membantu, kini baik pasar online maupun offline sama-sama mengalami penurunan drastis.

“Kalau dulu saat pandemi, online masih ramai. Sekarang dua-duanya turun, bahkan online hampir tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Para pelaku UMKM pun berharap kondisi ekonomi segera membaik, sehingga daya beli masyarakat kembali pulih dan aktivitas usaha dapat berjalan normal kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....