Memaafkan Bukan Berarti Harus Tetap Dekat dengan Orang yang Menyakiti
- 14 Jul 2026 13:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Memaafkan orang yang telah menyakiti bukanlah perkara mudah. Dalam ajaran Islam, memaafkan merupakan akhlak mulia yang membutuhkan proses dan latihan. Namun, memaafkan tidak selalu berarti harus kembali menjalin kedekatan dengan orang yang pernah berbuat zalim.
Dikutip dari kanal YouTube Ustaz Muhammad Al Habsyi, Selasa 14 Juli 2026, memaafkan adalah upaya membersihkan hati dari keinginan untuk membalas dendam maupun mendoakan keburukan kepada orang lain.
Muhammad Al Habsyi menjelaskan bahwa seseorang yang telah berusaha memaafkan tetap diperbolehkan menjaga jarak dari orang yang pernah menyakitinya. Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk perlindungan diri dan tidak bertentangan dengan sikap memaafkan.
"Itu wajar. Itu tidak apa-apa. Tidak ada masalah," ujar Muhammad Al Habsyi.
Ia menambahkan, apabila hati masih terasa terluka saat bertemu dengan orang tersebut, kondisi itu juga merupakan hal yang manusiawi. Yang terpenting, seseorang tidak lagi memiliki keinginan untuk membalas perbuatan buruk, tidak mendoakan keburukan, dan tidak berharap orang tersebut mengalami kehancuran.
Menurutnya, menjaga jarak demi menjaga ketenangan batin bukan berarti belum memaafkan. Sikap tersebut justru dapat menjadi cara untuk memulihkan diri tanpa menyimpan dendam.
Muhammad Al Habsyi juga mengingatkan besarnya pahala bagi orang yang gemar memaafkan kesalahan orang lain. Ia menyampaikan bahwa Allah SWT memberikan balasan istimewa kepada hamba yang mampu menghapus dendam dari dalam hatinya.
Ia menggambarkan bahwa pada hari kiamat akan ada seruan kepada orang-orang yang pahalanya diberikan langsung oleh Allah SWT karena kebiasaan mereka memaafkan sesama. Menurutnya, ketika seseorang sangat membutuhkan ampunan Allah, sikap pemaaf yang selama ini dijaga akan menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan-Nya.
Muhammad Al Habsyi menegaskan bahwa setiap muslim tentu tidak menginginkan dizalimi. Namun, apabila ujian itu datang, hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk memperoleh pahala dan meningkatkan kualitas diri.
Menurutnya, setiap luka dapat menjadi jalan bagi Allah SWT untuk mengangkat derajat hamba-Nya, membersihkan hati, serta menambah timbangan amal kebaikan apabila dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk belajar memaafkan, menjaga kebersihan hati, serta menjaga jarak apabila diperlukan demi kebaikan diri sendiri. Setelah berusaha semaksimal mungkin, seluruh urusan selanjutnya diserahkan kepada Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....