Tabayun Cegah Suudzon Perkuat Ukhuwah Islamiah di Masyarakat Modern
- 14 Jul 2026 11:21 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi di era digital dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya sikap suuzon atau buruk sangka di tengah masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi memicu fitnah, kesalahpahaman, hingga merenggangkan hubungan persaudaraan sesama muslim apabila tidak disikapi dengan bijaksana.
Pelaksana Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Beduai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Edi Fakhrudi, mengingatkan bahwa suuzon merupakan akhlak yang harus dihindari karena dapat merusak ukhuwah Islamiah yang dibangun atas dasar keimanan kepada Allah SWT. Menurutnya, sesama muslim dipersatukan oleh kalimat Laa Ilaaha Illallah, oleh sebab itu, jangan sampai ikatan persaudaraan tersebut rusak hanya karena prasangka yang belum tentu benar, fitnah, ataupun informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
"Suudzon sering kali berawal dari dugaan yang tidak disertai bukti, jika dibiarkan, hal itu dapat berkembang menjadi fitnah, permusuhan, bahkan memutus tali silaturahmi," ungkap Edi fakhrudi dalam Obrolan Mutiara Pagi RRi Sanggau, Selasa 14 juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa buruk sangka mendorong seseorang mudah menilai orang lain tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Akibatnya, seseorang dapat terjerumus pada perbuatan menggunjing, menyebarkan kabar bohong, hingga memberikan penilaian yang tidak adil terhadap sesama.
Menurut Edi, Islam mengajarkan setiap muslim untuk senantiasa melakukan tabayun atau mencari kejelasan terhadap setiap informasi yang diterima, sehingga tidak mudah percaya ataupun terpengaruh oleh kabar yang belum diketahui kebenarannya. Sikap tersebut penting agar seseorang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mampu menjaga persaudaraan dan menghindari terjadinya fitnah maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Berikan kesempatan kepada saudara kita untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya, jangan langsung percaya pada informasi yang belum jelas, apalagi jika informasi tersebut berpotensi menimbulkan perpecahan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa suudzon juga dapat muncul karena kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, mudah terpengaruh isu di media sosial, serta kurangnya pengendalian hati dan pikiran. Karena itu, umat Islam perlu membiasakan introspeksi diri, menjaga lisan, serta memperkuat keimanan agar tidak mudah terjerumus dalam prasangka buruk.
Di era digital, lanjutnya, setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi sebelum membagikannya. Menyebarkan kabar yang belum terverifikasi tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat merusak persatuan dan keharmonisan masyarakat.
Edi berharap masyarakat dapat membiasakan sikap tabayun dan husnuzon sebagai bagian dari budaya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi secara langsung maupun saat menerima informasi melalui media digital. Dengan mengedepankan klarifikasi, berbaik sangka, serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, fitnah, kesalahpahaman, perselisihan, dan konflik di tengah masyarakat dapat diminimalkan sehingga ukhuwah Islamiah tetap terjaga dengan baik."
"Jangan biarkan suudzon menguasai hati, mari menjaga ukhuwah Islamiah dengan berbaik sangka, memverifikasi setiap informasi, dan mengedepankan persaudaraan di atas prasangka," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....