Kenaikan Tren Isu Kesehatan Mental di Kalangan Gen Z Samarinda

  • 03 Jul 2026 12:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena gangguan kesehatan mental di kalangan Generasi Z (Gen Z) di Kota Samarinda kini berada pada tren yang mengkhawatirkan. Tekanan akademik, tuntutan lingkungan, serta ketidakpastian masa depan menjadi faktor utama yang memicu tingginya tingkat stres, burnout, hingga fase kritis yang dikenal sebagai quarter-life crisis (krisis seperempat abad) pada anak muda di ibu kota Kalimantan Timur ini.

Dalam program Obrolan Komunitas di Pro1 RRI Samarinda, Satunada Jiwa mengemukakan, mereka menemui banyak kasus di mana para remaja dan dewasa awal merasa kehilangan arah hidup. Dinamika zaman yang bergerak terlalu cepat sering kali membuat mereka merasa terisolasi dan tertinggal dari pencapaian orang lain.

Keluhan-keluhan yang masuk ke platform Satunada Jiwa mencerminkan bahwa masalah psikologis bukan lagi sekadar obrolan di media sosial, melainkan realitas yang nyata terjadi di lingkungan sekitar. Banyak anak muda yang membutuhkan intervensi profesional karena tidak mampu lagi menahan beban mental sendirian.

"Dan di sini saya jadi mulai mengenal banyak klien dan juga psikolognya ya. Ternyata masing-masing orang punya isu masing-masing dan mereka membutuhkan wadah. Apalagi yang sekarang ini kebanyakan isunya terkait kecemasan, stres akademik, dan burn out, terus bagi lingkungan yang kurang positif. Saya mengenal masalah-masalah ini dari keluhan klien yang membutuhkan sekali pertolongan dari konseling," ujar Robaniah selaku tim administrasi Satunada Jiwa, dikutip Jumat, 3 Juli 2026.

Stres akademik di kalangan mahasiswa, yang dipicu oleh tugas akhir atau ketakutan gagal pasca-kelulusan, menjadi salah satu pintu masuk munculnya kecemasan kronis. Jika lingkungan pertemanan atau keluarga kurang memberikan dukungan positif, kondisi psikologis Gen Z akan semakin memburuk.

Kondisi ini dipertegas oleh Mar'atus Salikhah. Selaku founder, ia melihat ada pola yang konsisten mengenai jenis gangguan psikologis yang paling menonjol dan dikonsultasikan oleh masyarakat Samarinda, terutama yang berkaitan dengan fase pencarian jati diri.

"Isu-isu yang paling sering ditemukan itu biasanya ya terkait kecemasan akan masa depan, kemudian ya merasa kehilangan arah, bisa dibilang kayak quarter-life crisis. Nah, itu sih yang paling banyak yang kita soroti ya sejauh ini," katanya.

Melihat tingginya tren kasus quarter-life crisis ini, Satunada Jiwa berkomitmen untuk terus membuka ruang konseling yang adaptif agar Gen Z di Samarinda tidak merasa berjuang sendirian dalam menghadapi ketidakpastian masa depan mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....