Mengapa Diam Disebut Ibadah Tertinggi? Ini Penjelasannya

  • 07 Jun 2026 08:00 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Menjaga lisan menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam yang sering kali terlupakan di tengah derasnya arus komunikasi dan penggunaan media sosial saat ini. Dalam Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Malang, Ustadzah Hj. Dewi Latifah menjelaskan ada empat keutamaan diam dalam ajaran IslamDiam bukan sekadar tidak berbicara, melainkan kemampuan menahan diri dari perkataan yang tidak membawa manfaat bagi agama maupun kehidupan. Menurutnya, sikap diam yang tepat dapat menjadi sarana untuk menjaga kehormatan diri sekaligus memperkuat kualitas ibadah seseorang.

Sebuah sabda Rasulullah menyebutkan bahwa sholat merupakan tiang agama, sedekah dapat memadamkan murka Allah, puasa adalah benteng dari api neraka, dan jihad merupakan puncak agama. Namun, dalam konteks menjaga diri, diam disebut memiliki keutamaan yang sangat besar. Ia menjelaskan bahwa orang yang mampu menjaga lisannya akan terhindar dari berbagai perbuatan yang dapat merusak amal ibadah, seperti ghibah, fitnah, adu domba, maupun ucapan yang menyakiti orang lain.

"Diam yang dimaksud bukan berarti tidak berbicara sama sekali. Diam adalah tidak mengucapkan perkataan yang tidak bermanfaat bagi agama dan kehidupan. Menjaga lisan itu sangat penting karena banyak dosa yang bersumber dari ucapan seseorang," ujarnya, Minggu (7/6/2026). Dewi Latifah menambahkan bahwa diam dapat menjadi penutup bagi kebodohan seseorang, sekaligus menjadi hiasan bagi orang yang berilmu karena membuatnya tampak lebih bijaksana dan berwibawa dalam bertindak maupun berbicara.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah lahiriah dan pengendalian lisan. Menurutnya, seseorang yang rajin melaksanakan sholat tetap harus memperhatikan apa yang diucapkannya setiap hari. "Agama tidak akan tegak tanpa sholat. Karena itu, sholat lima waktu harus dijaga, terutama dengan berjamaah. Namun setelah itu, lisan juga harus dijaga. Orang yang diberi nikmat untuk bisa menjaga sholat dan lisannya merupakan orang yang mendapatkan rahmat Allah," tambahnya.

Dalam kaitannya dengan puasa, ia menjelaskan bahwa menahan lapar dan haus saja tidak cukup jika seseorang masih mudah mengucapkan kata-kata yang buruk. Sebab, hakikat puasa juga mencakup pengendalian hati dan lisan. "Puasa itu benteng dari neraka, tetapi jika lisannya tidak dijaga, maka puasa bisa menjadi sia-sia. Diam adalah bagian dari hikmah, tetapi sedikit sekali orang yang mampu melakukannya dengan benar," ungkapnya. Ia juga mengingatkan agar amalan seperti sedekah tidak dilakukan dengan tujuan mencari pujian manusia, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Sebagai penutup, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan pengendalian lisan sebagai bagian dari jihad melawan hawa nafsu. Menurutnya, banyak persoalan dalam kehidupan bermula dari ketidakmampuan seseorang menjaga ucapannya. "Jihad yang berat adalah memerangi hawa nafsu. Jagalah hati dan lisan, tidak perlu sibuk menyalahkan orang lain. Jika setiap muslim mampu mengendalikan perkataannya, maka akan tercipta ketenangan dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan beragama," katanya mengakhiri. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa diam yang bernilai ibadah bukanlah sikap pasif, melainkan bentuk kedewasaan spiritual dalam menjaga diri dan hubungan dengan sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....