Bukan Salah Plastik, tapi Salah Kita Mengelolanya
- 05 Mei 2026 09:27 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Di balik labelnya sebagai penyebab utama kerusakan ekosistem laut, plastik ternyata menyimpan sisi lain yang jarang disadari: ia adalah salah satu penemuan paling berjasa bagi peradaban modern. Ahli material plastik, Adam Febriyanto Nugraha, S.T., Ph.D., Dalam Siniar HOHOHIHI On The Weekend, mengungkap bahwa stigma "jahat" yang melekat pada plastik sebenarnya berakar dari kesalahan manusia dalam mengelola limbah, bukan pada bahan plastiknya itu sendiri.
Pada awal kemunculannya, plastik hadir sebagai solusi. Sebelum itu, manusia mengandalkan bahan alami seperti kayu, logam, atau daun untuk mengemas barang dan makanan. Bahan-bahan tersebut memiliki keterbatasan dalam daya tahan, higienitas, dan distribusi jarak jauh.
"Plastik membantu kehidupan kita secara luar biasa, terutama di sektor logistik dan pangan. Plastik bersifat kedap air dan udara, sehingga makanan jadi jauh lebih awet dan bisa dikirim ke tempat yang sangat jauh tanpa membusuk," jelas Adam.
Sifat kedap dan ringan inilah yang menekan risiko kontaminasi sekaligus memperpanjang masa simpan. Tanpa plastik, tingkat pemborosan pangan global berpotensi meningkat signifikan karena distribusi yang kurang efisien dan kurang higienis.
Permasalahan muncul bukan karena plastik rapuh, melainkan justru karena ia terlalu tahan lama. Adam menyebut adanya fenomena “gagap budaya”. Pada masa lalu, pembungkus alami seperti daun pisang akan terurai dengan cepat meski dibuang sembarangan.
"Masalahnya, saat teknologi pembungkus berubah jadi plastik, kebiasaan buang sampah sembarangan kita tidak berubah. Kita memakai plastik dengan cara yang sama seperti memakai daun," tambahnya.
Perilaku yang tidak beradaptasi dengan karakter material baru inilah yang memicu akumulasi sampah. Durabilitas plastic tinggi yang semula menjadi keunggulan berubah menjadi persoalan lingkungan ketika tidak diimbangi sistem pengelolaan yang memadai.
Menurut Adam, pendekatan yang terlalu menekankan pelarangan tidak akan efektif tanpa perbaikan tata kelola limbah (waste management). Di Jepang, plastik tidak diposisikan sebagai musuh, melainkan sebagai material yang harus dikelola dengan disiplin melalui pemilahan dan daur ulang.
"Plastik itu punya harga jual. Botol-botol plastik di sungai Indonesia sekarang sudah jarang ditemukan karena sudah diambil pemulung untuk didaur ulang. Artinya, ekosistem ekonominya sudah ada, tinggal sistem pemilahannya yang harus diperbaiki sejak dari rumah tangga," ujar Adam.
Selain konsumen, produsen juga memegang peran penting melalui konsep Extended Producer Responsibility (EPR). Prinsip ini mewajibkan produsen bertanggung jawab atas siklus hidup produk yang mereka hasilkan, termasuk pembiayaan dan pengembangan sistem daur ulang. Dengan demikian, beban pengelolaan sampah tidak sepenuhnya ditanggung masyarakat atau pemerintah.
Plastik adalah material yang murah, kuat, ringan, dan higienis, karakteristik yang sulit sepenuhnya digantikan dalam kehidupan modern. Menghapusnya secara total bukanlah pilihan realistis dalam waktu dekat. Tantangan utamanya bukan pada materialnya, melainkan pada kedewasaan kita dalam mengelolanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....