PKK Lumajang ubah Sampah Menjadi Barang Berguna
- 24 Apr 2026 21:07 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Lumajang- Target nasional menekan timbulan sampah 30% dan menangani 70% sampah pada 2025 tidak akan tercapai bila hanya mengandalkan penanganan di Tempat Pemrosesan Akhir, Pemerintah kini menggeser fokus ke hulu rumah tangga.
Di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pergeseran itu dijalankan melalui Tim Penggerak PKK. Kamis (23/4/2026), Ketua TP PKK Lumajang Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma turun ke Desa Tukum untuk sosialisasi dan bimbingan teknis pengelolaan sampah berbasis keluarga.
“Selama ini sampah dianggap selesai saat dibuang. Padahal, jika dikelola, justru bisa menjadi sumber pendapatan keluarga,” kata Dewi Jumat (24/04/2026)
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menyebut sampah organik rumah tangga mendominasi komposisi sampah Indonesia. Karena itu, intervensi di level dapur dinilai paling efektif menekan beban lingkungan.
Di Tukum, limbah sayur dan buah tak lagi masuk tong sampah. Warga mengolahnya menjadi media budidaya cacing. Dari satu aktivitas, dihasilkan dua produk turunan pakan ternak dan pupuk organik cair yang laku dijual.
Model ini mengadopsi prinsip ekonomi sirkular. Skala rumah tangga dipilih karena biayanya murah, teknologinya sederhana, dan mudah direplikasi.
“Ini bukan sekadar kelola sampah, tetapi penguatan ekonomi keluarga berbasis potensi di rumah,” ujar Dewi.
Langkah PKK Lumajang selaras dengan agenda ekonomi hijau dan SDGs Desa. Praktik ini mendukung tiga tujuan sekaligus: desa peduli lingkungan, desa tanpa sampah, serta pertumbuhan ekonomi inklusif.
Kekuatan PKK terletak pada jaringannya yang menjangkau dasawisma. Struktur hingga akar rumput membuat edukasi menyebar cepat.
“PKK di garis depan perubahan perilaku. Dari ibu-ibu, gerakan ini meluas ke seluruh keluarga,” katanya
Selain mengurangi volume sampah, olahan limbah memberi penghasilan tambahan. Perempuan sebagai pengelola ekonomi domestik mendapat ruang baru untuk produktif. Produk seperti pupuk organik dan pakan cacing sudah mulai masuk pasar lokal.
Pendekatan ini membuktikan penyelesaian persoalan lingkungan tak selalu butuh teknologi mahal. Konsistensi komunitas justru menjadi daya ungkit.
Tantangan selanjutnya adalah integrasi dengan kebijakan desa, dukungan anggaran daerah, serta kepastian akses pasar agar usaha warga berkelanjutan.
Dari Lumajang, pesan yang muncul jelas: ketika rumah tangga mampu mengelola sampahnya sendiri, desa bergerak menuju kemandirian. Kontribusi terhadap target nasional pun menjadi lebih konkret.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....