Kisah Amal Orang Sholeh Habib Ahmad Al Habsyi

  • 14 Apr 2026 15:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Sumenep - Al Habib Achmad memulai tausiyahnya dengan mengucap alhamdulillah dan salawat kepada Rasulullah SAW.

Di majelis ini, kita diajak bersama untuk merenungkan Allah, melantunkan shalawat, serta dikenang tentang sosok-sosok mulia yang derajatnya diangkat oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Di tempat ini juga kita mendengarkan kisah hidup manusia paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Setiap hari dalam salat kita memohon kepada Allah agar diberikan jalan yang lurus, sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang shaleh.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menelusuri bagaimana jalan hidup para nabi dan orang-orang shaleh.

Salah satu contohnya adalah Al Habib Alwi Bin Abi Bakar. Meski beliau wafat sudah 53 tahun lalu, banyak orang masih mengingat dan mendoakannya,

Ini menandakan bahwa selama hidupnya beliau menempuh jalan yang diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala dan menjadi pribadi yang bermanfaat.

Kita pun hendaknya menjadi pribadi yang ketika meninggal dunia tetap didoakan banyak orang, bukan hanya pada saat wafatnya saja, melainkan terus dikenang dan didoakan sepanjang masa.

Mereka adalah orang-orang yang menggunakan waktunya untuk menyebarkan manfaat.

Rasulullah bersabda bahwa jika seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu ilmu yang bermanfaat yang terus diamalkan setelah ia tiada.

Sedekah jariyah yang manfaatnya terus dirasakan, dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya.

Jadi, sebelum kita dipanggil Allah subhanahu wa ta'ala, sebaiknya kita jadikan salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai tabungan kebaikan kita.

Para ulama mengatakan bahwa sekadar menyebut nama orang shaleh akan menurunkan rahmat, apalagi jika yang disebut adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Majelis ini mengingatkan kita tentang sejarah hidup orang shaleh. Orang shaleh tidak takut pada kematian; bagi mereka, kematian adalah perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Orang shaleh merasa bahagia saat hendak meninggal karena Allah menyambut mereka, meridhai, dan menggolongkan mereka sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung, serta memberikan kabar gembira surga. Oleh sebab itu, kematian adalah kebahagiaan bagi mereka.

Contohnya Sayyidah Fatimatuszahra, yang ketika Nabi Muhammad hendak wafat, beliau diberi bisikan pertama yang membuatnya menangis dan bisikan kedua yang membuatnya tersenyum bahagia.

Bisikan pertama adalah pemberitahuan bahwa ayahnya sudah sangat dekat ajalnya, yang tentu membuat siapa pun sedih, terutama umat Islam kehilangan terbesar mereka.

Namun bisikan kedua mengubah kesedihan itu menjadi kebahagiaan karena nabi bersabda bahwa yang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau adalah Sayyidah Fatimah sendiri

Logikanya, jika seseorang diberitahu bahwa ia akan meninggal lebih dahulu, mestinya takut.

Namun berbeda dengan beliau, yang tersenyum bahagia sebab sang kekasih tidak lama lagi akan dipertemukan kembali, dan beliau menjadi keluarga pertama yang menyusul Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....