Muhasabah Diri di Bulan Syawal, Momentum Evaluasi Ketakwaan
- 12 Apr 2026 12:05 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Muhasabah diri menjadi salah satu amalan penting yang perlu dilakukan umat Islam di bulan Syawal, sebagai bentuk evaluasi pasca menjalani ibadah Ramadan. Hal tersebut disampaikan oleh Ana Mufidah, S.Ag., M.Ag., dalam program Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, Minggu (12/4/2016), dengan tema “Muhasabah Diri di Bulan Syawal”.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa muhasabah berarti menghitung, menilai, dan menakar diri sendiri. Bulan Syawal disebut sebagai bulan peningkatan, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk melihat kembali apakah tujuan ibadah puasa Ramadan telah tercapai, yakni menjadi pribadi yang bertakwa.
"Jika tujuan tersebut belum tercapai, maka hendaknya menjadi bahan refleksi sekaligus harapan agar diberi kesempatan memperbaiki diri di masa mendatang," kata Ustazah Ana Mufidah.
Lebih lanjut dijelaskan, ibadah puasa sejatinya melatih manusia dalam tiga aspek penting, yaitu olah raga (fisik), olah rasa (emosi), dan olah pikir (akal). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi orang yang bertakwa.
"Oleh karena itu, muhasabah menjadi penting untuk mengukur apakah setelah Ramadan terjadi peningkatan kualitas diri atau justru penurunan," ujarnya.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang telah menjalankan puasa selama puluhan tahun seharusnya mengalami peningkatan derajat ketakwaan. Layaknya seorang guru yang menilai murid melalui ujian, setiap individu perlu mengetahui posisi dirinya—apakah berada pada tingkat yang lebih baik, tetap, atau justru menurun.
"Untuk itu, diperlukan indikator yang jelas dalam menilai kualitas ketakwaan tersebut," katanya.
Indikator pertama adalah ketakwaan secara personal. Seseorang dapat melihatnya dari peningkatan kualitas ibadah setelah Ramadan, seperti bertambahnya amalan sunnah atau meningkatnya kedisiplinan dalam beribadah.
"Jika di bulan Syawal justru mengalami penurunan, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa perlu adanya pembenahan diri,"
Indikator kedua adalah ketakwaan sosial, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 187. Puasa tidak hanya membentuk pribadi yang baik secara individu, tetapi juga mendorong kepedulian sosial, seperti gemar bersedekah, berinfak, dan membantu sesama, termasuk anak yatim.
"Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan juga tercermin dalam hubungan dengan orang lain," ungkapnya.
Sementara itu, indikator ketiga adalah menjadi pribadi yang bersyukur, sebagaimana terkandung dalam ayat 185. Rasa syukur tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan nyata, seperti berkata baik, berperilaku baik, dan memanfaatkan nikmat Allah untuk hal-hal yang bermanfaat.
"Ibadah pun tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga harus menghadirkan ketenangan dan kesadaran penuh kepada Allah," tegasnya.
Sebagai penutup, ditegaskan bahwa bulan Syawal tidak hanya menjadi momen perayaan kemenangan, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan muhasabah diri. Dengan evaluasi yang jujur, diharapkan setiap individu dapat mengetahui sejauh mana peningkatan ketakwaannya, serta terus berupaya menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.(Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....