Strategi Ampuh Pengendalian Hama pada Tanaman Jagung
- 08 Apr 2026 08:57 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas pangan paling vital di Indonesia, namun produktivitasnya sering kali terancam oleh serangan berbagai jenis hama. Masalah ini tidak bisa disepelekan karena tingkat kerusakan yang ditimbulkan dapat menyebabkan gagal panen total jika tidak ditangani dengan serius.
Hama utama yang kerap menjadi momok menakutkan adalah ulat grayak frugiperda (Spodoptera frugiperda), penggerek batang, serta kutu daun. Ulat grayak, misalnya, memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat dan nafsu makan yang rakus, terutama pada bagian titik tumbuh tanaman, bagian pucuk daun sudah rusak, pertumbuhan jagung akan terhenti secara permanen.
Langkah pertama dalam pengendalian yang bijak dimulai dari strategi preventif atau pencegahan, penggunaan benih varietas unggul yang memiliki ketahanan alami terhadap hama tertentu sangat disarankan. Selain itu, pengaturan waktu tanam yang serempak dalam satu hamparan lahan bertujuan untuk memutus siklus hidup hama agar tidak berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya.
Sistem tanam tumpang sari atau diversifikasi tanaman juga terbukti efektif menekan populasi hama secara alami. Dengan menanam tanaman pendamping seperti kacang-kacangan atau bunga-bungaan di sekitar area jagung, petani dapat menarik kedatangan musuh alami atau predator seperti tawon parasitoid dan kepik.
| Baca juga: Pengendalian Hama Patek pada Tanaman Cabai |
Keberadaan predator ini berfungsi sebagai pengendali hayati yang akan memangsa telur atau larva hama tanpa merusak keseimbangan ekosistem di area persawahan. Pengamatan rutin atau monitoring lapangan harus dilakukan setidaknya dua kali seminggu untuk memantau ambang ekonomi populasi hama.
Jika populasi masih di bawah ambang batas, pengendalian secara fisik atau mekanis dapat dilakukan, misalnya dengan mengambil ulat secara manual atau memasang perangkap cahaya (light trap) di malam hari. Pendekatan ini jauh lebih ekonomis dan ramah lingkungan dibandingkan langsung bergantung pada bahan kimia sejak awal pertumbuhan tanaman.
Apabila serangan hama sudah melampaui batas toleransi dan mengancam keberlangsungan panen, barulah penggunaan pestisida dapat dipertimbangkan sebagai langkah terakhir. Namun, pemilihan jenis pestisida harus dilakukan secara selektif, mengutamakan pestisida nabati atau biopestisida yang lebih aman bagi lingkungan.
Secara keseluruhan, keberhasilan pengendalian hama pada tanaman jagung sangat bergantung pada keterpaduan berbagai metode, yang dikenal dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dengan mengombinasikan teknik budidaya yang baik, pemanfaatan musuh alami, dan penggunaan bahan kimia secara bijaksana, petani tidak hanya dapat mengamankan produksi pangan tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....