Mengenal Fenomena Bekerja Seperlunya Demi Kesehatan Mental

  • 19 Feb 2026 09:43 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Ranai - Dunia kerja moderen kini diwarnai oleh fenomena unik dimana banyak karyawan memilih untuk membatasi dedikasi mereka demi menjaga ketenangan batin. Kelelahan fisik dan mental yang berlebihan mendorong lahirnya sebuah gerakan untuk menarik diri sejenak dari tuntutan produktivitas yang mencekik.

Gerakan bekerja dengan standar minimum tanpa harus mengundurkan diri ini dikenal luas dengan istilah Quiet Quitting. Berdasarkan ulasan dari kanal YouTube Lebih Baik, istilah tersebut mulai populer setelah viral di media sosial sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang berlebihan.

Karyawan yang menerapkan prinsip ini biasanya menolak beban kerja tambahan dan hanya melakukan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang seharusnya. Pelaku fenomena ini lebih memprioritaskan keseimbangan hidup dibandingkan mengejar promosi atau kenaikan jabatan.

Pemicu utama dari sikap ini adalah rasa jenuh serta kurangnya apresiasi yang diberikan oleh pihak manajemen kepada para pekerjanya. Pandemi menjadi titik balik di mana banyak orang mulai menyadari pentingnya batasan waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Dampaknya terasa cukup signifikan bagi perusahaan karena hampir separuh praktisi SDM mulai merasa khawatir terhadap penurunan performa kolektif tim mereka. Penjelasan lebih lanjut di kanal YouTube Lebih Baik menyoroti bahwa budaya manajemen yang buruk dan kurangnya komunikasi menjadi akar masalah dari fenomena ini.

Meskipun dapat menjadi solusi jangka pendek untuk meredakan stres, sikap bekerja seperlunya yang dilakukan terus-menerus bisa menghambat pertumbuhan karier pribadi. Disarankan agar karyawan lebih memilih mengambil cuti singkat untuk menyegarkan pikiran daripada kehilangan semangat kerja dalam jangka panjang.

Perusahaan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan memberikan beban kerja yang adil guna mencegah kelelahan mental pada stafnya. Kerjasama yang baik antara atasan dan bawahan menjadi kunci utama agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan jiwa setiap individu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....