Letak Geografis Indonesia Tingkatkan Risiko Beragam Ancaman Bencana Alam
- 17 Jul 2026 07:16 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari letak geografis dan proses pembentukan wilayah Nusantara yang menjadikan Indonesia memiliki beragam potensi ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga kekeringan.
Hal itu disampaikan Dosen Geografi Universitas Negeri Malang, Dr. Heni Masruroh, M.Sc., dalam dialog SPADA Tanggap Bencana di Pro 2 RRI Malang, Rabu (15/07/2026). Menurutnya, karakteristik geologi Indonesia menjadikan ancaman bencana sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, sehingga masyarakat perlu membangun budaya sadar bencana melalui mitigasi dan kesiapsiagaan.
"Kalau berbicara tentang Indonesia, kita sering menyebutnya sebagai etalase bencana. Hampir semua jenis bencana ada di Indonesia karena kondisi geologi, geomorfologi, dan letak geografis yang kita miliki. Ancamannya memang besar, tetapi risikonya tetap bisa kita kurangi melalui mitigasi yang baik," ujar Heni.
Ia menjelaskan, Indonesia berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yaitu kawasan yang menjadi pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif dunia. Kondisi ini menyebabkan Indonesia memiliki ratusan gunung api, aktivitas gempa bumi yang tinggi, serta potensi letusan gunung api yang selalu perlu diwaspadai.
Selain itu, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang sangat panjang, Indonesia juga memiliki banyak wilayah pesisir yang rentan terhadap ancaman tsunami. Karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan pantai perlu memahami prosedur evakuasi dan mengenali tanda-tanda awal terjadinya bencana.
"Letak geografis memang tidak bisa kita ubah. Yang bisa kita lakukan adalah memahami karakteristik wilayah tempat tinggal masing-masing. Dengan begitu masyarakat akan lebih siap menghadapi ancaman dan mengetahui langkah penyelamatan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi," jelasnya.
Heni menambahkan, ancaman bencana juga dapat dijumpai di wilayah Malang Raya dengan karakteristik yang berbeda-beda sesuai kondisi geografisnya. Di Kota Malang, masyarakat perlu mewaspadai banjir, longsor pada tebing sungai, serta kebakaran permukiman, terutama di kawasan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
Sementara itu, Kabupaten Malang bagian selatan memiliki potensi ancaman yang lebih beragam, mulai dari tsunami, tanah longsor, erosi pantai, hingga kekeringan pada musim kemarau. Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa upaya mitigasi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
"Setiap daerah memiliki jenis ancaman yang berbeda. Karena itu, strategi mitigasi juga tidak bisa disamaratakan. Wilayah pesisir tentu memiliki prioritas yang berbeda dengan kawasan perkotaan atau daerah pegunungan. Pemetaan risiko menjadi langkah penting agar upaya pengurangan bencana lebih efektif," katanya.
Selain dipengaruhi faktor alam, Heni menilai aktivitas manusia juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko sejumlah bencana, khususnya banjir di kawasan perkotaan. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, serta berkurangnya daerah resapan air membuat air hujan tidak dapat meresap secara optimal dan akhirnya memicu genangan maupun banjir.
Menurutnya, penataan ruang yang berkelanjutan harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Penyediaan ruang terbuka hijau, perlindungan kawasan resapan air, serta pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
"Bencana memang dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi dalam banyak kasus dampaknya menjadi lebih besar karena aktivitas manusia. Oleh sebab itu, penataan ruang yang baik dan pelestarian lingkungan merupakan investasi jangka panjang untuk membangun wilayah yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....