Sekolah Inklusi Wujudkan Hak Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus
- 11 Jul 2026 15:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perbedaan kemampuan belajar tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Melalui penerapan sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan belajar bersama teman sebaya di lingkungan yang sama.
Psikolog UPTD Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) Kota Samarinda, Hanifa Timur Mawarizka menjelaskan sekolah inklusi merupakan satuan pendidikan yang menerima peserta didik dengan berbagai karakter, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar bersama siswa reguler. Konsep tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman, tanpa membedakan latar belakang dan kemampuan peserta didik.
"Sekolah inklusi menerima dan melayani anak dengan berbagai karakter, khususnya anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka bisa belajar dan bersosialisasi bersama teman-teman reguler dalam satu lingkungan sekolah," ujar Hanifa, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Sekolah inklusi berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolah inklusi berorientasi pada pengembangan kemampuan akademik bagi anak yang memiliki kemampuan kognitif memadai, dan mampu mengikuti proses belajar dengan pendampingan. Sementara itu, SLB lebih fokus pada pengembangan bakat, minat serta keterampilan sesuai kondisi masing-masing peserta didik.
Di Samarinda, sekolah inklusi tidak hanya diperuntukkan bagi ABK. Dalam satu kelas, siswa reguler dan ABK belajar bersama sehingga tercipta interaksi yang saling mendukung. Keberadaan Guru Pembimbing Khusus (GPK) membantu proses pembelajaran, agar kebutuhan setiap peserta didik tetap dapat terpenuhi sesuai kemampuannya.
Hanifa menilai sistem tersebut memberikan manfaat bagi seluruh siswa. ABK memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan akademik sekaligus keterampilan sosial. Di sisi lain, siswa reguler belajar memahami perbedaan dan menumbuhkan empati sejak usia dini.
"Anak reguler dapat belajar menghargai perbedaan dan memberikan dukungan kepada temannya, sedangkan anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak belajar yang sama tanpa merasa minder berada di lingkungan sekolah," katanya.
Meski demikian, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan GPK yang terbatas menjadi salah satu kendala utama. Karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui bimbingan teknis dinilai penting, agar layanan pendidikan inklusi dapat berjalan lebih optimal.
Pendidikan inklusi bukan sekadar membuka akses sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Sistem ini menjadi upaya membangun budaya saling menerima, menghormati perbedaan dan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar serta mengembangkan potensinya tanpa diskriminasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....