Pilah Sampah dari Rumah, Langkah Sederhana Kurangi Beban Lingkungan

  • 29 Jun 2026 10:09 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Mengelola sampah tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana memilah sampah sejak dari rumah dinilai menjadi salah satu solusi efektif untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meringankan beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Hal tersebut disampaikan Yasmin Amini, anggota SapaBumi (Sahabat Pilah Sampah Bumi Meranti), sebuah inisiatif warga di kawasan Bumi Meranti Wangi yang mengajak masyarakat memilah sampah sebelum disalurkan ke pengepul secara kolektif.

Yasmin mengaku kebiasaan memilah sampah sebenarnya sudah diterapkan keluarganya sejak lama. Namun, melalui SapaBumi, ia belajar bahwa proses pemilahan harus dilakukan lebih rinci agar sampah benar-benar bisa dikelola.

"Di keluarga saya memang sudah terbiasa memilah sampah, tetapi masih secara sederhana. Setelah bergabung di SapaBumi, saya baru tahu kategorinya jauh lebih banyak karena tidak semua jenis sampah bisa didaur ulang," ujarnya dalam Program Green Radio di Pro 1 RRI Malang, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Yasmin, masih banyak masyarakat menganggap sampah sebagai persoalan sepele. Padahal, cara membuang sampah sangat menentukan apakah limbah tersebut masih dapat dimanfaatkan atau justru menjadi pencemar lingkungan.

Ia mencontohkan sampah organik yang dimasukkan ke dalam kantong plastik akan terurai tanpa cukup oksigen (anaerob) dan menghasilkan gas metana. Jika terus menumpuk di TPA, gas tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hingga ledakan.

"Kalau sampah organik dicampur dalam plastik lalu menumpuk, proses pembusukannya menghasilkan gas metana yang berbahaya. Karena itu pemilahan dari rumah sangat penting," jelasnya.

Selain berdampak pada lingkungan, mencampur sampah juga menambah pekerjaan petugas maupun pemulung yang harus memilah ulang. Menurut Yasmin, setiap orang seharusnya bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.

Di SapaBumi, pemilahan dilakukan secara detail. Botol plastik dipisahkan dari tutupnya karena keduanya memiliki jenis material yang berbeda dan akan diolah menjadi produk yang berbeda pula. Bahkan, sampah seperti bungkus sachet atau plastik kresek tipis yang sering ditolak di tempat lain tetap diupayakan agar dapat dikelola melalui jalur yang tersedia.

Untuk sampah organik, Yasmin mendorong masyarakat mengolahnya menjadi kompos. Salah satu cara yang mudah dilakukan di rumah adalah menggunakan lubang biopori. Selain membantu proses pengomposan, biopori juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan sehingga dapat mengurangi genangan.

Sebagai pecinta alam, Yasmin mengaku prihatin masih banyak orang meninggalkan sampah saat beraktivitas di alam terbuka. Ia berharap perubahan dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

"Tidak harus langsung sempurna. Mulailah dari kebiasaan sederhana, seperti membawa wadah sendiri saat membeli makanan atau minuman dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....