Anak Muda Flobamora Bergerak Nyata Jaga Lingkungan Bumi

  • 16 Apr 2026 13:46 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Komunitas Katong dan Bumi Flobamora fokus edukasi pengelolaan sampah
  • Tantangan utama adalah konsistensi relawan muda
  • Program edukasi berhasil kumpulkan lebih dari 5 ton sampah
  • Kolaborasi anak muda dan pemerintah dinilai penting
  • Strategi media sosial digunakan untuk kampanye lingkungan
  • Pesan utama: menjaga bumi butuh konsistensi, bukan sekadar wacana

RRI.CO.ID, Kupang - Program OBRAS (Obrolan Spada) Pro Dua RRI Ende mengangkat tema “Katong dan Bumi Flobamora: Aksi Nyata Anak Muda Jaga Bumi, Bukan Sekadar Wacana”, menghadirkan Roni Fredik Manu sebagai narasumber utama, Jumat, 20 Maret 2026 . Diskusi ini menyoroti peran generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup di Nusa Tenggara Timur melalui aksi konkret dan berkelanjutan.

Roni Fredik Manu menjelaskan komunitas Katong dan Bumi Flobamora lahir dari kegelisahannya saat menjadi leader World Clean Up Day. Ia menilai kegiatan bersih-bersih semata belum cukup jika tidak diiringi perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Menurutnya, komunitas tersebut kemudian difokuskan pada edukasi lingkungan, khususnya terkait pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya reaktif, tetapi juga memiliki kesadaran jangka panjang terhadap lingkungan.

Dalam perjalanannya, Roni mengakui tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi anggota komunitas yang mayoritas merupakan relawan. Banyak anak muda yang awalnya tertarik karena tren, namun tidak bertahan lama dalam menjalankan aksi nyata di lapangan.

Meski demikian, komunitas ini telah menunjukkan dampak nyata melalui program edukasi dan pendampingan di Jemaat Gunung Sinai Naikolan. Anak-anak di wilayah tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari lima ton sampah yang kemudian disalurkan ke Bank Sampah Mutiara Timur.

Roni juga menekankan pentingnya kolaborasi antara anak muda dan pemerintah dalam menjaga lingkungan. Ia menyebut anak muda memiliki keunggulan dalam bergerak cepat tanpa hambatan birokrasi, namun tetap membutuhkan dukungan pemerintah untuk memperluas jangkauan edukasi.

Selain itu, strategi pendekatan kepada generasi muda dilakukan melalui self-branding di media sosial. Dengan membagikan konten edukasi secara konsisten, pesan lingkungan dapat tersampaikan tanpa terkesan menggurui, sekaligus membangun kesadaran kolektif.

Ia berharap kesadaran menjaga lingkungan dimulai dari hal sederhana, terutama saat berwisata di alam terbuka. Menurutnya, menjaga bumi bukan perkara sulit, tetapi membutuhkan komitmen untuk dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....