Geng Motor: Realita Sosial Remaja
- 01 Agt 2025 12:59 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Beberapa waktu belakangan ini, Cirebon kembali diresahkan dengan keberadaan geng motor yang mengganggu kenyamanan warga. Pihak kepolisian beserta pejabat daerah setingkat RT hingga camat, baik di wilayah kota maupun kabupaten, pun menjalin kerja sama untuk mengantisipasi aktivitas liar remaja ini agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
Langkah antisipasi yang dilakukan pun beragam, mulai dari merangkul pihak sekolah di setiap tingkatan untuk memberikan edukasi tentang risiko pergaulan bebas dan bahaya mengikuti gerombolan balap liar kepada para peserta didik, sampai dengan penyuluhan kepada warga agar menolak aksi ini di lingkungan tempat tinggalnya. Maraknya kenakalan remaja ini berimbas kepada hal negatif yang bukan hanya akan merugikan bagi pribadinya sendiri, bahkan masyarakat secara luas.
Sebagaimana beberapa kasus yang terjadi di Plumbon, wilayah utara Cirebon, di mana sekelompok remaja menyerang perumahan warga pada malam hari dan menganiaya warga perumahan tersebut. Para ahli psikolog pun menyimpulkan bahwa hal ini diakibatkan instabilitas neurotisis kepribadian remaja yang timbul akibat latar belakang keluarga remaja tersebut.
Peran orang tua sangat memengaruhi mentalitas mereka. Remaja yang lahir dari pasangan yang broken home akan cenderung bermasalah dengan karakter sosialnya. Pada akhirnya, mereka akan mencari kegiatan yang dapat memuaskan emosi jiwanya dengan perkara negatif melalui komunitas geng motor ini. Geng motor merupakan wadah para remaja untuk melampiaskan emosi hatinya dan untuk mencari pengakuan sosial di tengah masyarakat, tegas Elizabeth Santosa selaku psikolog.
Dalam realita sosial di tengah kalangan remaja ini, geng motor kerap kali mewarnai keresahan masyarakat. Aksi mereka bukan hanya diwujudkan dengan balap liar saja yang mengganggu ketertiban lalu lintas, bahkan hingga keributan antar komunitas. Kerap kali setiap anggota membawa senjata tajam seperti golok, celurit, dan belati. Di jalan mereka berlomba racing dengan tujuan yang beragam: ada yang dikukuhkan sebagai kelompok yang unggul, taruhan uang, hingga diberikan wanita jalang.
Ini semua merupakan orientasi mereka untuk mendapatkan pengakuan identitas. Parahnya lagi, jika di antaranya ada yang kalah balap, mereka akan meluapkannya dengan merusak fasilitas publik seperti toko, perkantoran, bahkan bangunan sekolah. Nama geng motor bukan hanya viral di Indonesia. Bila ditelusuri secara global, hal serupa marak juga dilakukan pemuda di Thailand sebagai negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi se-Asia Tenggara.
Kelompok motor bukan hanya terdiri dari warga lokal, bahkan setiap komunitas geng pun merekrut anggota dari negara lain seperti Australia, Kanada, dan negara Eropa lainnya yang datang sebagai turis. Tak tanggung-tanggung, kejahatan ini pun merembet kepada tindak kriminal lainnya seperti penyelundupan narkoba, alkohol, hingga lartas barang impor dan ekspor. Sebut saja klub Hells Angels yang anggotanya terdiri dari mafia perdagangan manusia dan pengedar narkotika kelas kakap.
Di Malaysia, istilah geng motor lebih umum disebut sebagai mat rempit. Dalam jurnalnya, Rozmi Ismail menuturkan bahwa rempit bukan berasal dari bahasa Melayu, melainkan bahasa Inggris yang sudah dikontekstualkan ke dalam realita sosial di alam Melayu. Merujuk kepada sekelompok remaja yang melakukan keonaran bermotor secara ugal-ugalan dengan melajukan kecepatan motor melebihi yang dibolehkan, sehingga menimbulkan keresahan pengendara lain.
Selain itu, para remaja akan berkeliaran di tengah kesenyapan malam, kemudian melakukan aksi balap liar dengan berbagai cara. Mereka akan unjuk kebolehan dengan aksi wheelie, yaitu mengendarai dengan satu roda depan, atau sebaliknya wheekang, mengangkat roda belakang ketika mengendarai motor. Penyebutan mat rempit pun menuai polemik di kalangan tokoh agama. Hal ini dikarenakan istilah mat rempit sendiri mengandung pemaknaan positif.
Para figur masyarakat pun lebih senang menjulukinya sebagai samseng jalan raya ketimbang mat rempit, dengan anggapan kata mat sendiri merupakan singkatan dari kata Muhammad di kalangan umum. Penamaan mat rempit baru saja populer ketika media setempat meliput fenomena ini pada tahun 2006, di mana ada sekelompok pemuda melakukan aksi illegal fast driving di kawasan Johor Bahru,
Kuala Lumpur, dan Pulau Pinang. Parahnya, aksi tersebut diawali dengan mengonsumsi doping berupa kokain dan tuak, sehingga memberikan efek tenang dan gembira tanpa risau dengan keadaan sekitar. Dengan begitu, mereka tanpa malu mengemudi secara tak terkendali meskipun berlawanan arah, sehingga mengganggu lajur jalan. Lebih parahnya lagi, mereka terkadang tak segan menodong para pengendara lain dan mengambil kendaraannya. Bila menolak, maka tak segan mereka merusak kendaraan tersebut bahkan melukai korban.
Di Singapura, perkara serupa terjadi ketika Singapore Police Force mengejar seorang kapcai singa / pengendara liar yang melajukan kendaraan di atas 200 km per jam dengan motor dua tak yang membisingkan. Disinyalir pelaku merupakan komplotan geng motor yang memiliki komunitas besar di Malaysia. Namun akhirnya, kejadian itu mampu dihalau oleh polisi Johor saat pelaku akan melintasi Woodland Checkpoint, yang merupakan perbatasan antara Malaysia dan Singapura.
Pemerintah Singapura memiliki aturan tegas tentang pidana kasus balap liar ini. Bagi pelaku, akan dijerat dengan penahanan dan denda yang berkisar 4.500 Singapore Dollar atau setara dengan 45 juta rupiah. Mat rempit atau kapcai singa beraksi lebih brutal lagi di waktu sempena kebangsaan dan hari perayaan keagamaan seperti malam Idulfitri, Krismas, dan Deepavali.
Kasus balapan liar merupakan realita sosial remaja yang hilang arah tujuan hidup mereka. Pemuda yang seharusnya diberdayakan secara fisik dan intelektual, akan tetapi karena tidak ada arahan dari keluarga dan perhatian pemerintah, akhirnya mereka mengambil kesibukan lain yang tak berfaedah. Ini bukan permasalahan sepele yang bisa dikesampingkan dan ditunggu hingga kasusnya menyebabkan kerusakan dan korban. Ini adalah isu yang memerlukan perhatian serius dari setiap pihak agar remaja bisa tumbuh untuk melejitkan potensi mereka ke arah yang positif.
Beberapa solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan membangun sarana publik yang bisa digunakan sebagai sirkuit arena balap bagi pemuda yang ingin menyalurkan bakat mereka, seperti Marina Bay Street Circuit yang menjadi alternatif pemerintah Singapura dalam menangani kasus balap liar. Mat rempit kini pun didata oleh setiap ketua komunitasnya agar diberikan fasilitas untuk balapan di Sepang International Circuit, Malaysia. Bahkan keberadaannya pun diakui sebagai bagian dari entitas kemasyarakatan. Tak jarang kini pun para remaja diberikan alternatif pekerjaan seperti penghantar makanan atau runner sebagai bagian dari peran pemerintah dalam mengembangkan kapasitas mereka.
Pemerintah Indonesia pun harus memahami permasalahan geng motor yang harus dicari win-win solution-nya agar mampu mendamaikan kedua belah pihak. Tentu, penyediaan fasilitas arena balap khusus seharusnya dirancang agar bisa membendung aksi ilegal yang menggaduhkan warga. Area taman di setiap wilayah seharusnya bukan hanya didesain untuk tempat bermain anak-anak, juga harus ada sarana olahraga dan arena balap jika memungkinkan, seperti Skatepark Taman Bima Cirebon dan Sirkuit Bung Karno Kota Tegal. Bagaimanapun juga, penindakan tegas terhadap aksi balap liar dan geng motor harus selaras dengan solusi yang diberikan kepada remaja agar bisa diterapkan secara terukur dan menciptakan keamanan sosial.
Penulis: Muhammad Sophy Abdul Aziz, Lc., MHSc. Akademisi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....