Dua Tahun Tak Aktif, Embung Ciremai Kembali Disiagakan Cegah Karhutla

  • 14 Sep 2026 19:25 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Masyarakat Peduli Api Paguyuban Silihwangi Majakuning mengaktifkan kembali embung penampungan air di sekitar Bukit Seribu Bintang, Taman Nasional Gunung Ciremai, sebagai upaya antisipasi kebakaran hutan dan lahan.
  • Embung berkapasitas 4.000 liter tersebut telah tidak berfungsi selama dua tahun sebelum diaktifkan kembali oleh puluhan relawan pada Senin 14 September 2026.
  • Relawan melakukan pembersihan menyeluruh terhadap instalasi dan saluran air untuk memastikan pasokan air tersedia dan siap digunakan dalam situasi kebakaran darurat.

RRI.CO.ID, Kuningan - Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning menghidupkan kembali embung penampungan air di sekitar Bukit Seribu Bintang pada Senin, 14 September 2026. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Embung berkapasitas sekitar 4.000 liter itu sebelumnya tidak berfungsi selama dua tahun. Puluhan relawan kini kembali membersihkan instalasi dan saluran air untuk memastikan pasokan air tersedia jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan pengaktifan embung dilakukan dengan memperbaiki saluran yang terputus serta instalasi pendukungnya. “Yang kita lakukan hari ini mengaktifkan saluran embung yang terputus. Sudah dua tahun lamanya tidak aktif. Kita mengaktifkan kembali instalasi dan aliran airnya,” ujar Nandar.

Selain mengaktifkan embung, relawan memasang toren berkapasitas 1.000 liter di titik yang lebih tinggi. Posisi tersebut memungkinkan air dialirkan secara gravitasi ke area di bawahnya sehingga lebih mudah digunakan ketika terjadi kebakaran.

“Di sana masih banyak ilalang dan tanaman perdu. Tanaman endemik seperti puspa juga masih ada, termasuk tanaman endemik yang ditanam sekitar tahun 2022 dan 2023. Jadi sumber air ini penting untuk antisipasi kebakaran,” katanya.

Sekitar 20 relawan terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka membersihkan embung sekaligus memelihara instalasi saluran air sepanjang kurang lebih 5 kilometer yang menghubungkan sumber air dengan titik penampungan.

Sumber air berasal dari mata air Sibagawat. Menurut Nandar, debit mata air tersebut masih cukup baik meskipun kondisi kemarau cukup terik.

“Dengan kondisi kemarau seperti ini, airnya tetap ada dan debitnya masih lumayan besar, meskipun kita tarik ke kontur yang lebih tinggi,” ujarnya.

Nandar mengatakan embung tersebut tidak hanya disiapkan sebagai sumber air untuk menghadapi karhutla. Saat musim hujan, fasilitas penampungan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan konservasi, seperti persemaian, penyimpanan bibit, serta pemeliharaan tanaman endemik Ciremai dan tanaman MPTS.

MPA juga berencana menambah sejumlah instalasi penampungan air di titik lain. Salah satunya berupa embung berukuran sekitar 6 x 4 meter dengan kedalaman sekitar satu meter yang diperkirakan mampu menampung hingga 5.000 liter air setelah dilapisi terpal.

“Kita selanjutnya akan membuat instalasi-instalasi baru untuk mempermudah antisipasi kebakaran. Ketika musim hujan, embung ini juga bisa difungsikan untuk menyimpan bibit atau mendukung persemaian dan pemeliharaan tanaman,” kata Nandar.

Seluruh kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa upah maupun honor harian. MPA menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan konservasi, khususnya masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan Ciremai.

Kegiatan tersebut juga dikoordinasikan dengan pihak pengelola TNGC. Bagi MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, kesiapsiagaan berbasis masyarakat diperlukan untuk memperkuat perlindungan kawasan Ciremai dari ancaman karhutla.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....