Penyuluh Agama Hindu Hadapi Tantangan Jaga Toleransi Generasi Muda

  • 17 Agt 2026 18:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Perkembangan zaman dan derasnya arus informasi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga toleransi dan persatuan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika masyarakat hidup dalam lingkungan yang heterogen dan menghadapi beragam persoalan sosial.

Penyuluh Agama Hindu, Made Supartini, S. Ag, mengatakan kondisi masyarakat yang beragam membuat penanaman nilai persatuan tidak selalu mudah dilakukan. Menurutnya, masyarakat perlu terus diberikan pemahaman bahwa seluruh warga merupakan satu keluarga, satu saudara, satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa.

"Tantangannya cukup banyak, karena kadang di tengah-tengah kehidupan seperti sekarang ini, terutama di lingkungan yang sangat heterogen atau dengan berbagai permasalahan, sulit juga bagaimana kita menanamkan nilai-nilai bahwa kita adalah satu keluarga, kita satu saudara," ujarnya kepada RRI Senin, 17 Agustus 2026.

Made menilai generasi muda, khususnya Gen Z dan generasi Alfa, perlu mendapatkan perhatian dalam upaya menanamkan nilai persatuan dan toleransi. Pemahaman tersebut penting agar mereka menyadari bahwa sikap tidak saling menghargai dan menghormati dapat menimbulkan dampak yang tidak baik.

Ia mencontohkan perundungan atau bullying yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Sebagai pengajar tingkat SMP dan SMA, Made mengaku terus mengingatkan anak-anak mengenai pentingnya memandang orang lain sebagai bagian dari keluarga dan saudara.

Made juga mengenalkan konsep Tat Twam Asi dalam ajaran Hindu kepada anak-anak sebagai landasan untuk membangun empati. Konsep tersebut mengajarkan bahwa diri sendiri dan orang lain memiliki keterkaitan, sehingga menyakiti orang lain pada hakikatnya sama dengan menyakiti diri sendiri.

"Kalau kita menyakiti, coba kembalikan ke dalam diri kita, kalau kita disakiti bagaimana rasanya, karena kita adalah berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Selain Tat Twam Asi, Made menanamkan pemahaman mengenai hukum karma kepada generasi muda. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati dalam bertindak karena setiap perbuatan diyakini memiliki dampak yang akan kembali kepada diri sendiri.

Ia mengakui upaya menjaga kerukunan dan toleransi di era media sosial memiliki tantangan yang semakin besar. Informasi dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi memengaruhi seseorang apabila tidak mampu menyaring serta memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayainya.

Karena itu, Made mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial. Kemampuan memfilter informasi dan memahami dampaknya dinilai penting untuk mencegah munculnya persoalan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....