Titik Panas Masih Terdeteksi, TPSA Ciniru Belum Sepenuhnya Aman

  • 15 Agt 2026 21:57 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Penanganan kebakaran di TPA Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan masih berlanjut hingga Sabtu 15 Agustus 2026 dengan melibatkan tim gabungan.
  • Proses pendinginan menjadi tahap penting karena suhu di bawah permukaan tumpukan sampah masih tinggi dan berpotensi memicu kebakaran susulan.
  • Kepala UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusumah, menekankan prioritas pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul dari bawah tumpukan sampah.

RRI.CO.ID, Kuningan – Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, masih berlanjut hingga Sabtu, 15 Agustus 2026. Tim gabungan memprioritaskan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul dari bawah tumpukan sampah.

Kepala UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusumah, mengatakan proses pendinginan menjadi tahap penting. Hal itu karena suhu di bawah permukaan tumpukan sampah masih tinggi dan berpotensi memicu kebakaran susulan.

“Kita sekarang sedang fokus pada pendinginan untuk semua wilayah, terutama yang posisinya digunakan untuk pembuangan sampah. Karena sudah beberapa hari DLH tidak bisa membuang sampah, sedangkan kebutuhan masyarakat untuk segera ditangani sangat mendesak,” ujar Andri saat ditemui di lokasi, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Baca juga: Kebakaran TPSA Ciniru meluas, Titik Panas Capai 80 Derajat Celsius

Di tengah proses pemadaman, petugas Damkar harus berjibaku menghadapi kepulan asap tebal dan panas yang menyengat dari tumpukan sampah. Kondisi tersebut membuat jarak pandang terbatas sekaligus mengganggu pernapasan petugas.

Andri bersama personel Damkar tetap berada di lokasi untuk memastikan titik-titik api dapat dikendalikan. Sejumlah petugas bahkan mengalami kelelahan setelah berulang kali masuk ke area yang dipenuhi asap dan panas.

Dalam kondisi tersebut, petugas sempat membutuhkan bantuan oksigen untuk memulihkan kondisi pernapasan sebelum kembali melanjutkan penanganan di lokasi kebakaran. Situasi itu menggambarkan beratnya medan yang dihadapi petugas dalam proses pendinginan TPSA Ciniru.

Api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga masih menyimpan panas di bawah tumpukan sampah sehingga sewaktu-waktu dapat kembali menyala. Menurut Andri, salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran adalah panas yang masih terperangkap di bawah permukaan tumpukan sampah.

Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan penyisiran dan penyemprotan secara berulang. Ia menjelaskan, laporan awal kebakaran diterima dari Kepala UPT Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan pada Rabu, 13 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00 WIB.

Saat petugas tiba di lokasi, api masih dalam skala kecil. Namun, kobaran api kemudian cepat meluas karena keterbatasan pasokan air dan jauhnya sumber air dari lokasi kebakaran.

“Api bertambah besar sementara kami terbatas dari sisi suplai air karena sumber air di sini cukup jauh. Jadi penanganan tidak sebanding dengan penyebaran apinya,” ucap Andri menjelaskan.

Baca juga: Darurat Sampah, TPA Ciniru Kuningan Terancam Penumpukan

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, mengatakan kondisi kebakaran secara umum sudah lebih kondusif dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun, berdasarkan pemetaan termal menggunakan drone, masih ditemukan sejumlah titik panas di bawah tumpukan sampah.

“Karena memang hasil pemetaan termal drone masih, tadi malam pun masih ada beberapa titik panas yang pada saat tadi mencoba pendinginan yang pada akhirnya ya pemadaman,” kata Indra.

Menurutnya, titik panas masih ditemukan di sejumlah wilayah, terutama bagian barat, utara, selatan, hingga kawasan perbukitan dan tebing yang memiliki medan cukup terjal. “Ada beberapa titik terutama di wilayah barat, utara, selatan tadi sudah tersisir oleh teman-teman Damkar sampai dengan ke titik yang memang salah satu yang paling luas dan cukup terjal, tebing seperti tebing bukit,” ujarnya.

Indra menyebut penanganan saat ini difokuskan pada ketersediaan pasokan air agar proses pendinginan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Penyemprotan dilakukan berulang hingga lapisan tanah terbuka dan kondisi permukaan benar-benar basah.

“Fokusnya kita sekarang yang paling penting adalah water supply harus betul-betul tersedia, dalam artian supaya tidak ada jeda terlalu lama ketika penyemprotan itu tidak berhenti, estafet,” ucapnya.

Dalam penanganan tersebut, satu kendaraan operasional Damkar didukung tiga unit kendaraan pemasok air dari PMI dan PDAM. BPBD juga menurunkan dua kendaraan serta membantu penyediaan logistik bagi personel TNI, Polri, Damkar, dan instansi terkait.

Indra mengatakan personel gabungan dari sejumlah unsur masih berada di lokasi, meskipun sebagian personel dari tingkat provinsi telah kembali ke instansi masing-masing.

“Alhamdulillah hari ini dari teman-teman Damkar 12 orang, kami 12 orang, dari LH pasti, kemudian ada tadi dari PMI, dari PDAM masih eksis untuk membantu penanganan kebakaran di lahan TPSA Ciniru,” ujarnya. Penanganan juga diarahkan untuk mencegah api kembali meluas ke lahan dan kebun milik warga di sekitar TPSA.

BPBD memperkirakan proses pendinginan masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk memastikan titik panas di bawah tumpukan sampah benar-benar padam. “Mudah-mudahan saja di 17 Agustus kita sudah merdeka pada kebakaran TPSA, kita doakan saja,” kata Ibe menutup sesi wawancara.

google-preference
Video

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....