Hadapi El Nino, Majalengka Genjot Pompanisasi & Kunci 40.700 Hektare Sawah

  • 12 Agt 2026 16:12 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka - Pemerintah Kabupaten Majalengka memperkuat sistem pengairan pertanian untuk menghadapi ancaman El Nino dan potensi kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan. Penguatan tersebut dilakukan melalui program irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga pembangunan sodetan dan pemanfaatan energi surya untuk pompanisasi.

Langkah itu dibahas dalam Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Irigasi Perpipaan Tahun Anggaran 2026 di Aula Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Majalengka, Rabu 12 Agustus 2026

Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan ketersediaan air menjadi faktor utama untuk menjaga produktivitas pertanian, terutama menghadapi ancaman El Nino. "Berdasarkan BMKG, El Nino sedang tinggi-tingginya. Saya tidak ingin teman-teman petani mengalami gagal panen," ujar Eman.

Untuk mengantisipasi kekeringan, Pemkab Majalengka telah menyalurkan 119 unit Irigasi Perpompaan (Irpom) dan 37 unit Irigasi Perpipaan (Irpip) ke sejumlah wilayah pertanian yang membutuhkan.

Sarana tersebut diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan air petani, terutama di kawasan sawah tadah hujan dan wilayah yang rentan kekeringan saat Musim Tanam II (MT2). Selain pompanisasi, pemerintah memperkuat jaringan pengairan melalui pembangunan dan penanganan sodetan.

Di wilayah utara Majalengka, misalnya, pembangunan sodetan yang mendapat persetujuan BBWS disebut mampu memperluas potensi lahan panen. Dari sekitar 2.000 hektare lahan yang sebelumnya terancam gagal panen, kini seluruh luasan tersebut ditargetkan dapat dipanen.

Sementara untuk wilayah Ligung, Bantarwaru dan Leuweunghapit, Pemkab mendorong penggunaan pompa berbasis tenaga surya sebagai solusi jangka pendek untuk menekan biaya bahan bakar solar.

Untuk jangka panjang, pemerintah mengusulkan pembangunan sodetan sepanjang sekitar 700 meter di Saluran Sindupraja. Pemkab juga siap mendukung proses pembebasan lahan agar proyek tersebut dapat direalisasikan.

Upaya lainnya dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan teknis yang rusak serta pengusulan pembangunan sejumlah embung, termasuk di wilayah Mekarjaya, penguatan ketahanan pangan tidak hanya dilakukan melalui penyediaan air.

Pemkab Majalengka bersama ATR/BPN juga menetapkan 40.700 hektare Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Lahan tersebut dilindungi untuk mencegah alih fungsi dan memastikan ketersediaan kawasan pertanian produktif dalam jangka panjang.

Kepala DKP3 Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan monitoring dilakukan untuk memastikan seluruh Irpom dan Irpip yang telah disalurkan berfungsi optimal.

DKP3 bersama penyuluh pertanian juga memetakan wilayah dengan tingkat kerawanan kekeringan tinggi sehingga bantuan pompa, jaringan perpipaan dan perbaikan irigasi dapat diberikan secara tepat sasaran.

Di tingkat petani, program tersebut mendapat sambutan positif. Kohar, petani asal Ligung, mengatakan keberadaan pompa, sodetan dan fasilitas pengairan berbasis listrik membantu mengurangi kekhawatiran menghadapi musim kemarau sekaligus menekan biaya operasional.

"Air sekarang bisa mengalir lancar sampai ke ujung sawah. Kami makin optimistis hasil panen MT2 ini bisa sukses melimpah," ujarnya.

Dengan memperkuat infrastruktur pengairan sekaligus melindungi 40.700 hektare lahan pangan, Pemkab Majalengka menargetkan produksi pertanian tetap terjaga meski ancaman perubahan iklim dan kekeringan semakin meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....