Sarasehan Agung Tokoh Cirebon Bahas Penyatuan Haul Sunan Gunung Jati

  • 10 Agt 2026 11:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Jam’iyyah Hadiyu JAMHA menggelar Sarasehan Agung Tokoh Cirebon pada Sabtu 8 Agutus 2026 bertempat di Pendopo Bupati Cirebon. Kegiatan ini sebagai forum untuk menyatukan gagasan terkait penentuan Haul Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Sarasehan tersebut juga menjadi ruang pertemuan para ulama, tokoh keraton, pemerintah, akademisi, budayawan, serta elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam mengembangkan potensi Cirebon. Ketua Umum JAMHA, Dr. Ir. Sangudi Muhammad, MM., mengatakan sarasehan digelar karena terdapat perbedaan penanggalan pelaksanaan haul Syekh Syarif Hidayatullah dari sejumlah pihak. Menurutnya, perbedaan tersebut perlu dibahas bersama agar terdapat waktu yang dapat dipahami dan dilaksanakan secara bersama-sama oleh masyarakat Cirebon.

“Menurut para budayawan berbeda, menurut kesultanan berbeda, jadi minimal ada empat sumber tentang pelaksanaan haul ini. Akhirnya Bapak Bupati menyarankan untuk dikumpulkan dulu dan meminta masukan, maka terbentuklah acara sarasehan ini,” ujarnya pada Sabtu 8 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, forum tersebut tidak semata-mata membahas persoalan penetapan tanggal haul, tetapi juga bertujuan menyatukan berbagai potensi yang dimiliki Cirebon. Potensi tersebut meliputi pemerintah daerah, kesultanan, organisasi keagamaan, pesantren, masyarakat, hingga sektor budaya dan pariwisata.

Pihaknya berharap sarasehan tidak berhenti sebagai pertemuan awal, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan yang lebih besar. Ia bahkan mengusulkan agar momentum Haul Sunan Gunung Jati nantinya dirangkai dengan festival budaya, keraton, maupun keilmuan untuk menghidupkan aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.

“Paling tidak ada satu waktu yang dipahami bersama. Kemudian sebelum waktu haul Syaikh Syarif itu, kita mengadakan semacam festival, entah itu festival budaya, festival keraton, festival keilmuan, yang pasti kita untuk meramaikan dalam rangka menyambut Haul Syaikh Syarif,” katanya.

Menurutnya potensi Haul Sunan Gunung Jati sangat besar karena sosok tersebut memiliki pengaruh yang melampaui wilayah Cirebon. Ia menyebut tingginya kunjungan masyarakat dari luar daerah menjadi salah satu indikator besarnya potensi wisata religi yang dapat dikembangkan secara bersama.

Sementara itu, Kepala Staf Korem 063/Sunan Gunung Jati Letkol Inf M. Yusron S.A.P., yang mewakili Danrem 063/Sunan Gunung Jati Kolonel Inf Hista Soleh Harahap, mengatakan sarasehan memiliki dua agenda strategis, yakni menyatukan gagasan mengenai haul dan menyatukan potensi Cirebon. Menurutnya, kedua hal tersebut penting untuk memperkuat identitas Cirebon sekaligus mendukung perkembangan ekonomi dan budaya daerah.

“Haul bukan sekadar ritual tahunan, haul adalah ruang refleksi untuk menyerap kembali esensi perjuangan, dakwah damai, dan kearifan lokal yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati. Penentuan tanggal haul yang disepakati bersama oleh seluruh elemen kesultanan, ulama, pemerintah, tokoh masyarakat adalah menjadi simbol pemersatu umat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Cirebon memiliki potensi besar di bidang budaya, sejarah, wisata religi, dan letak geografis yang strategis sebagai pintu gerbang ekonomi Jawa Barat bagian timur. Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan maksimal apabila seluruh pihak masih berjalan sendiri-sendiri tanpa kolaborasi.

Ia menegaskan Korem 063/Sunan Gunung Jati siap mendukung hasil sarasehan dan menjaga kondusivitas wilayah. Menurutnya, keamanan dan kerukunan masyarakat merupakan fondasi agar potensi ekonomi, budaya, dan wisata Cirebon dapat berkembang secara optimal.

Bupati Cirebon Imron mengatakan Sarasehan Agung Tokoh Cirebon menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah, menyamakan persepsi, serta membangun komitmen bersama dalam menjaga sejarah, budaya, dan nilai spiritual yang menjadi identitas Cirebon. Ia menilai Syekh Syarif Hidayatullah bukan hanya tokoh penyebar Islam, tetapi juga pemersatu masyarakat dan peletak dasar peradaban Cirebon.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menurutnya, nilai toleransi, kebudayaan, sejarah, dan persatuan yang diwariskan Sunan Gunung Jati relevan untuk menjadi bekal masyarakat dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Maju 2045.

“Jadi kita sekarang duduk bersama, bahkan kita sekarang ada perbedaan di dalam haul Syekh Syarif pun kita duduk bersama. Maka dari sejarawan, intelektual, akademisi, dari para kiai, yuk kita sama duduk karena Cirebon ini adalah suatu daerah yang bersejarah,” katanya.

Ia juga mendorong agar sejarah Cirebon tidak hanya diwariskan melalui cerita lisan, tetapi dihimpun dan ditulis berdasarkan kajian akademis. Menurutnya, dokumentasi sejarah penting agar generasi mendatang memiliki sumber pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak kehilangan jejak sejarah daerah.

Ia berharap sarasehan tersebut menjadi langkah awal untuk menyatukan berbagai elemen Cirebon. Dengan sinergi antara pemerintah, kesultanan, ulama, akademisi, budayawan, TNI-Polri, serta masyarakat, potensi sejarah dan budaya Cirebon diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Sarasehan Agung Tokoh Cirebon kemudian secara resmi dibuka oleh Bupati Cirebon Imron. Forum tersebut diharapkan menghasilkan gagasan bersama mengenai Haul Syekh Syarif Hidayatullah sekaligus menjadi momentum memperkuat Cirebon sebagai daerah yang religius, rukun, berbudaya, dan memiliki daya tarik wisata religi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....