Akademisi : Perceraian Mulai Dianggap Normal
- 29 Jul 2026 17:30 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Meningkatnya paparan informasi mengenai perceraian di media sosial dinilai turut memengaruhi cara pandang sebagian masyarakat terhadap perpisahan dalam rumah tangga, meski keputusan bercerai tetap dipengaruhi oleh kondisi masing-masing pasangan. Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran perubahan sosial di tengah meningkatnya angka perceraian di Kabupaten Cirebon pada semester pertama 2026.
Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Nurlaili Khikmawati, M.Ant., mengatakan kecenderungan masyarakat memilih perceraian memang ada, tetapi tidak dapat digeneralisasi karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Faktor ekonomi, tingkat pendidikan, kemampuan komunikasi, hingga stigma sosial terhadap perempuan yang bercerai masih menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.
"Kalau kecenderungan mungkin ada, tetapi kita enggak bisa menggeneralisir bahwa setiap konflik selalu berujung perceraian," ujar Nurlaili.
Ia menjelaskan, sebagian perempuan tetap mempertahankan rumah tangga karena ketergantungan ekonomi maupun kekhawatiran terhadap stigma sebagai janda. Sebaliknya, perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi terkadang merasa lebih mampu mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan ketika konflik tidak lagi dapat diselesaikan.
Menurutnya, budaya digital juga ikut membentuk persepsi baru bahwa perceraian merupakan sesuatu yang semakin lazim terjadi karena sering muncul dalam berbagai konten media sosial. Akibatnya, perceraian perlahan dianggap bukan lagi sebagai sesuatu yang sangat tabu dibandingkan beberapa dekade lalu.
"Semakin banyak perceraian di-up dalam konten, akhirnya menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Tetapi tetap tidak bisa digeneralisasi karena kembali pada sumber daya yang dimiliki masing-masing pasangan," ucap Nurlaili.
Ia berharap pasangan suami istri tidak menjadikan tren di media sosial sebagai dasar dalam mengambil keputusan besar terkait rumah tangga. Menurutnya, penyelesaian konflik tetap perlu mengedepankan komunikasi, pertimbangan yang matang, dan upaya bersama untuk mempertahankan keutuhan keluarga apabila persoalan masih dapat diselesaikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....