Psikolog Ungkap Alasan Korban Kekerasan Sulit Meminta Pertolongan

  • 01 Jul 2026 16:34 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Bandung yang berlangsung selama tiga tahun menyita perhatian publik. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan korban tidak segera meminta pertolongan meski mengalami kekerasan dalam waktu yang lama.

Psikolog, Sofia Halida Fatma, M.Psi, mengatakan kondisi tersebut dapat dijelaskan dari sudut pandang psikologis. Menurutnya, korban yang memilih diam bukan berarti menerima kekerasan yang dialaminya.

"Ketika korban kekerasan memilih diam, bukan berarti dia menerima proses disakiti atau dijahati. Itu juga merupakan salah satu bentuk survival mode atau mekanisme bertahan hidup yang dilakukan korban," ujar Sofia kepada RRI pada Selasa, 30 Juni 2026.

Sofia menjelaskan korban kekerasan umumnya mengalami tekanan psikologis yang terjadi secara berulang dalam waktu lama. Kondisi tersebut membuat korban merasa segala upaya yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan sehingga muncul rasa putus asa atau hopelessness.

Ia menambahkan kegagalan korban untuk berulang kali keluar dari situasi kekerasan membuat otak membentuk keyakinan bahwa tidak ada jalan yang aman untuk menyelamatkan diri. Akibatnya, korban menjadi enggan mencari bantuan meskipun sebenarnya membutuhkan pertolongan.

"Korban merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah situasi yang berbahaya. Akhirnya dia memilih tidak lagi meminta pertolongan karena seolah-olah tidak memiliki pilihan yang benar-benar aman," katanya.

Menurut Sofia, kondisi tersebut semakin diperparah oleh tindakan pelaku yang kerap melakukan kontrol psikologis melalui ancaman, intimidasi, hingga mengisolasi korban dari lingkungan sekitar. Manipulasi yang dilakukan pelaku juga dapat membuat korban percaya bahwa dirinya pantas menerima perlakuan tersebut atau merasa ikut bersalah atas kekerasan yang dialaminya.

Ia menegaskan masyarakat perlu memahami bahwa keputusan korban untuk diam bukan merupakan bentuk keinginan menolak bantuan. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan dampak dari tekanan psikologis yang kompleks sehingga korban membutuhkan dukungan, perlindungan, dan pendampingan untuk dapat keluar dari lingkaran kekerasan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....