Tren Nail Art Remaja Bisa Jadi Bentuk Pencarian Pengakuan Jati Diri

  • 19 Jun 2026 18:26 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Fenomena mengikuti tren di kalangan remaja tidak selalu didorong keinginan untuk tampil menarik atau sekadar mengikuti teman. Di baliknya, terdapat berbagai faktor sosial dan ekonomi yang memengaruhi perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

Guru BK SMP Negeri 2 Sumber, Hj. Maesaroh, S.Pd., mengatakan salah satu tanda yang sering ditemukan pada remaja yang mudah terpengaruh lingkungan adalah kurangnya kedekatan dengan keluarga. Kondisi tersebut membuat sebagian anak mencari pengakuan dan perhatian dari lingkungan pertemanan.

Menurutnya, kebutuhan untuk diterima kelompok sering kali terlihat dari kebiasaan mengikuti tren yang sedang populer. Salah satu yang saat ini kerap ditemukan di lingkungan sekolah adalah tren nail art atau penggunaan kuku sambung.

“Biasanya anak-anak yang kurang mendapatkan pengakuan di lingkungan keluarga akhirnya mencari pengakuan dari teman-temannya. Hal itu sering terlihat dari kecenderungan mengikuti tren yang sedang berkembang di lingkungan pergaulan,” ujarnya kepada RRI Kamis, 18 Juni 2026.

Maesaroh mengungkapkan pernah menemukan kasus seorang siswi yang melanggar aturan sekolah terkait penampilan. Setelah dilakukan pendekatan dan komunikasi secara mendalam, diketahui bahwa alasan di balik perilaku tersebut tidak sesederhana yang terlihat.

Ia menuturkan siswi tersebut menggunakan media sosial untuk mempromosikan jasa atau produk nail art kepada teman-temannya. Aktivitas itu dilakukan sebagai upaya membantu memenuhi kebutuhan biaya sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas.

“Ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata ada anak yang mengikuti tren nail art untuk mempromosikan dagangannya melalui media sosial. Bahkan, dari pengakuannya, hasil yang diperoleh digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah,” ucapnya.

Meski demikian, Maesaroh menegaskan bahwa tindakan yang melanggar tata tertib sekolah tetap tidak dapat dibenarkan. Namun, menurutnya, pendidik perlu memahami latar belakang setiap kasus agar tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap siswa.

Ia menilai pendekatan yang intensif dan komunikasi yang baik antara sekolah, keluarga, dan siswa sangat penting untuk menemukan akar permasalahan. Dengan cara tersebut, solusi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pelanggaran aturan, tetapi juga pada kebutuhan dan kondisi yang dihadapi anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....