Hikmah Pemindahan Kiblat bagi Manajemen Rumah Sakit Modern
- 03 Mar 2026 22:27 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan — Dinamika manajemen rumah sakit di era modern kian kompleks. Tuntutan efisiensi keuangan, adaptasi sistem pembiayaan INA-DRG, hingga dorongan inovasi medis seperti terapi regeneratif dan stem cell, menjadi realitas yang harus dihadapi pengelola layanan kesehatan.
Di tengah tekanan tersebut, kepemimpinan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kalkulasi angka, melainkan juga kepekaan moral dan empati. Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, Dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa, menilai bahwa perubahan kebijakan di rumah sakit sering kali menimbulkan gejolak internal.
“Perubahan itu pasti menghadirkan resistensi. Di sinilah kepemimpinan diuji, bukan hanya dalam aspek manajerial, tetapi juga dalam kemampuan memahami kegelisahan sumber daya manusia,” ujarnya dalam sebuah pandangan reflektif, pada Selasa, 3 Maret 2026.
Menurutnya, sejarah Islam memberikan pelajaran penting tentang manajemen perubahan melalui peristiwa pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Makkah. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 144. Ia menilai, momentum itu bukan sekadar pergeseran arah ibadah, melainkan contoh konkret kepemimpinan dalam merespons dinamika umat.
Dalam pandangannya, sebelum turunnya perintah pemindahan kiblat, Muhammad disebut kerap menengadahkan wajah ke langit, sebagaimana diabadikan dalam ayat tersebut. “Itu menunjukkan adanya dimensi empati dan harapan yang terhubung antara pemimpin dan umatnya,” katanya.
Ia menegaskan, dalam konteks rumah sakit, pemimpin tidak bisa hanya berada di balik meja. Direktur harus turun langsung ke ruang pelayanan, mendengar keluhan tenaga medis, dan memahami tekanan psikologis di lapangan.
“Kebijakan yang lahir dari empati akan lebih mudah diterima dibanding instruksi yang bersifat top-down,” tambahnya. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa resistensi terhadap perubahan tidak selalu lahir dari ketidaktahuan.
Merujuk QS. Al-Baqarah ayat 142 dalam Al-Qur'an, ia menyebut bahwa penolakan bisa muncul karena kurangnya pemahaman atau karena kepentingan tertentu yang merasa terancam.
“Dalam organisasi, ada yang menolak karena belum paham. Mereka perlu diedukasi. Tetapi ada juga yang menolak karena ego dan kepentingan. Pendekatannya tentu berbeda,” jelasnya.
Ia juga mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 159 dalam Al-Qur'an yang menekankan pentingnya kelembutan dalam kepemimpinan. Menurutnya, sikap keras justru berpotensi memperlebar jarak antara pimpinan dan tim.
Di sisi lain, kekhawatiran atas perubahan kerap berkaitan dengan perasaan kehilangan kontribusi masa lalu. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 143, lanjutnya, ditegaskan bahwa amal yang telah dilakukan tidak akan disia-siakan. “Pesan ini relevan bagi organisasi modern. Transformasi digital atau perubahan sistem tidak boleh membuat tenaga senior merasa tersisih. Dedikasi mereka adalah fondasi institusi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembaruan bukanlah bentuk pengingkaran terhadap masa lalu, melainkan upaya menjaga keberlanjutan institusi di masa depan. “Perubahan adalah keniscayaan. Namun, cara kita memimpin dalam perubahan itulah yang menentukan apakah organisasi akan pecah atau justru semakin solid,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi layanan kesehatan, refleksi historis tersebut dinilai dapat menjadi pengingat bahwa manajemen bukan semata perkara sistem dan angka, tetapi juga tentang menjaga nilai, empati, dan kemanusiaan dalam setiap kebijakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....