Sambut Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon Gelar Tradisi Drugdag

  • 18 Feb 2026 19:24 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi Drugdag dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan di Keraton Kasepuhan Jalan Kasepuhan Nomor 43, Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon pada Rabu, 18 Februari 2026. Tradisi tahunan ini ditandai dengan pemukulan bedug sebagai simbol pemberitahuan sekaligus ungkapan kegembiraan umat Islam menyongsong bulan penuh berkah.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon PR Goemelar Soeryadiningrat mengatakan Ramadan disambut dengan rasa syukur dan suka cita oleh keluarga besar keraton dan masyarakat. Tradisi pemukulan bedug menjadi ciri khas penyambutan bulan suci di lingkungan keraton. “Kita sebagai umat Muslim menyambut dengan penuh gembira datangnya bulan suci. Di Keraton Kasepuhan ada karakteristik memukul bedug sebagai penanda,” ujar Goemelar.

Ia menambahkan masyarakat juga turut meramaikan penyambutan Ramadan melalui pawai obor keliling. Hal tersebut menjadi simbol kebersamaan dalam menyambut bulan suci. “Kemarin juga ada masyarakat yang menyambut dengan pawai obor keliling bersama-sama, menandakan kita menyambut dengan sukacita,” ucapnya.

Selama Ramadan, Keraton Kasepuhan rutin menggelar kegiatan keagamaan di Langgar Alit. Kegiatan tersebut meliputi tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih hingga akhir bulan puasa. “Setiap bulan puasa kita mengadakan tadarusan setelah salat tarawih di Langgar Alit sampai selesai hingga akhir Ramadan,” ujarnya.

Penghulu Masjid Agung Sang Ciptarasa KH Jumhur menjelaskan pemukulan bedug memiliki makna pemberitahuan dimulainya ibadah puasa. Penentuan waktu dilakukan pada sore hari sesuai penanggalan Hijriah. “Pemukulan bedug sebagai pemberitahuan bahwa esok hari mulai melaksanakan ibadah puasa karena pergantian tanggal Hijriah dimulai saat matahari terbenam,” jelasnya.

Ia menegaskan penetapan awal Ramadan tetap berlandaskan ajaran Rasulullah SAW melalui rukyatul hilal. Tradisi keraton juga berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah. “Kita mengikuti ajaran Rasul, berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya ketika melihatnya,” ucapnya.

KH Jumhur menambahkan irama tabuhan bedug memiliki filosofi tauhid, tasbih, dan ketakwaan. Tradisi Drugdag menjadi warisan budaya yang mempererat ukhuwah Islamiyah masyarakat Cirebon dalam menyambut Ramadan. “Tradisi ini tidak hanya simbol religius, tetapi juga memperkuat identitas spiritual masyarakat Cirebon,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....