Hari Penyiaran Nasional, Radio Jadi Benteng Menangkal Hoaks

  • 01 Apr 2026 17:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Arus deras media digital tak serta-merta menyingkirkan peran radio. Di Kabupaten Kuningan, radio justru dinilai masih relevan sebagai sumber informasi yang edukatif sekaligus terpercaya.

Pandangan itu disampaikan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, saat momentum Hari Penyiaran Nasional, Rabu, 1 April 2026.

Menurut Nana, radio memiliki karakter khas yang tidak dimiliki media lain. Kekuatan auditori radio dinilai mampu melatih fokus pendengar tanpa mengganggu aktivitas harian.

“Radio itu bagi kami proses pembelajarannya melalui auditori. Jadi unik, kita bisa melakukan pekerjaan yang lain, tapi kita juga bisa menyerap informasi dengan melakukan aktivitas yang lain,” katanya.

Lebih jauh, ia menyebut bahwa mendengarkan radio bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari proses belajar memahami informasi secara utuh.

“Hal yang paling berat, apa pun pekerjaan kita, apa pun status kita, adalah bagaimana kita belajar mendengar. Karena radio itu paling besar mengajarkan untuk mendengar,” ujarnya.

Di sisi lain, maraknya hoaks di ruang digital menjadi tantangan tersendiri. Namun, Nana menilai radio terutama lembaga penyiaran publik seperti Radio Republik Indonesia (RRI) masih menjadi rujukan informasi yang kredibel karena melalui proses verifikasi ketat.

“Alhamdulillah efektif sekali, terutama untuk informasi terkait isu-isu hoaks yang ada di masyarakat. Karena yang disiarkan di radio ini informasinya update dan kita dapat mengetahui check and recheck-nya. Tingkat validasinya, apalagi RRI sebagai lembaga pemerintah, sudah benar-benar lulus verifikasi,” katanya menegaskan.

Tak hanya soal informasi, Nana juga mengingatkan peran historis radio dalam perjalanan bangsa, termasuk sebagai alat komunikasi penting pada masa perjuangan kemerdekaan.

“Lembaga penyiaran harus tetap dipertahankan, karena kalau istilah Sundanya "moal apal bakal mun teu apal cikal". Peranan radio ini sangat berpengaruh dalam memberikan semangat dan spirit kemerdekaan Indonesia,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Nana berharap masyarakat tidak meninggalkan budaya mendengarkan radio, bahkan mendorong adanya momen khusus untuk kembali menghidupkan kebiasaan tersebut di tengah era digital.

Sebagai informasi, Hari Penyiaran Nasional diperingati setiap 1 April. Dilansir dari laman resmi Komisi Penyiaran Indonesia, penetapan 1 April sebagai Hari Penyiaran Nasional memiliki dasar sejarah yang kuat. Tanggal ini merujuk pada berdirinya Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1 April 1933 di Solo, Jawa Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....