Peneliti IPB University Sebut Kimpul Berpotensi Jadi Pangan Fungsional
- 18 Sep 2026 17:36 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Belakangan, kimpul ramai diperbincangkan sebagai pangan lokal yang disebut memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Perhatian terhadap umbi ini semakin meningkat setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat menjadikannya sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti nasi.
Potensi kimpul ternyata tidak hanya sebagai pengganti sumber karbohidrat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan. Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof. Titi Candra Sunarti, menyebut kimpul berpeluang dikembangkan sebagai pangan fungsional dan bahan baku produk pangan bebas gluten.
“Kimpul itu mudah tumbuh dan tidak memerlukan lahan khusus. Tanaman ini juga dapat dijadikan tanaman sela karena tidak terlalu tinggi. Pengolahannya sederhana, bisa direbus atau dikukus dan langsung dikonsumsi,” ujar Prof Titi sebagaimana dikutip dari artikel yang diterbitkan website IPB University Selasa, 15 September 2026.
Prof. Titi menjelaskan, kimpul memang memiliki kemiripan dengan talas, tetapi keduanya merupakan jenis tanaman yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk daun hingga karakter umbinya, termasuk kimpul yang dapat menghasilkan lebih dari satu anak umbi dalam satu tanaman.
Menurutnya, kimpul juga memiliki keunggulan karena mudah diolah menjadi berbagai jenis pangan, mulai dari perkedel, keripik, hingga tepung. Di beberapa daerah, komoditas ini dikenal dengan nama berbeda, seperti belitung atau talas belitung, sehingga pemahaman mengenai penamaannya perlu diperkuat agar tidak menimbulkan kekeliruan.
Dari sisi gizi, kimpul tetap perlu dikonsumsi bersama pangan lain karena kandungan protein dan lemak pada umbi-umbian umumnya lebih rendah dibandingkan serealia. Meski begitu, kimpul berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional karena karbohidrat di dalamnya tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Dari sisi kandungan, kimpul tetap memiliki asam oksalat, tetapi jumlahnya relatif rendah dibandingkan beberapa jenis umbi lainnya. Kondisi ini membuat kimpul tidak menimbulkan rasa gatal di mulut seperti yang dapat terjadi pada umbi tertentu, sementara kadar oksalat dapat dikurangi melalui perendaman dalam air garam atau air kapur dan proses pemasakan.
Sementara itu, peluang pengembangan kimpul semakin terbuka jika diarahkan menjadi produk pangan khusus. Salah satunya adalah pangan bebas gluten yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dengan kebutuhan pangan tertentu.
“Kalau produksi berlebih, baru dibuat tepung. Tepung itulah yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan berbagai produk pangan,” katanya.
Namun, pengembangan kimpul membutuhkan dukungan industri pengolahan dan pasokan bahan baku yang berkelanjutan. Penguatan rantai pasok, standardisasi, serta inovasi produk diperlukan agar kimpul dapat menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....