Darah Haid: Sumber Informasi Medis yang Terlupakan

  • 02 Jun 2026 09:10 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Bagi sebagian besar perempuan, darah menstruasi sering kali dianggap sebagai limbah tubuh yang dibuang begitu saja tanpa pemikiran lebih lanjut. Padahal, zat yang secara medis disebut ‘effluent’ ini menyimpan kombinasi kaya akan jaringan rahim, sel imun, protein, hingga molekul pemberi sinyal biologi.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Selasa 2 Juni 2026, para peneliti kini tengah gembira mengeksplorasi potensi besar cairan tersebut untuk mengubah lanskap dunia kesehatan reproduksi secara revolusioner. Christine Metz, seorang profesor dari Feinstein Institutes for Medical Research di New York, bahkan mengibaratkan rahim sebagai batas wilayah terakhir yang harus diselidiki secara menyeluruh.

Studi mendalam dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa darah haid mampu merekam aktivitas imun lokal secara lebih akurat dibanding tes darah biasa. Dipanjan Pan, profesor nanomedis dari The Pennsylvania State University, menjelaskan bahwa cairan ini memberikan potret beresolusi tinggi mengenai pertahanan imun rahim yang sering kali terencerkan dalam darah vena.

Melalui riset bertajuk Research OutSmarts Endometriosis (ROSE) yang diinisiasi sejak 2013, Metz memanfaatkan darah menstruasi sebagai alat diagnosis non-invasif untuk endometriosis. Penyakit yang diderita sekitar 190 juta perempuan di dunia ini biasanya membutuhkan operasi biopsi yang rumit, namun kini dapat dideteksi dini secara lebih mudah lewat "biopsi alami" tersebut.

Metode pengumpulan sampel di rumah dinilai jauh lebih efisien untuk memotong masa tunggu diagnosis endometriosis yang biasanya memakan waktu hingga 12 tahun. Temuan tim Metz pada jurnal BMC Medicine tahun 2022 membuktikan adanya perbedaan sekuens RNA sel tunggal yang sangat kontras antara jaringan rahim yang sehat dan yang berpenyakit.

Selain endometriosis, metode inovatif ini terbukti efektif untuk mendeteksi penyakit reproduksi lain seperti adenomiosis, fibroid rahim, infeksi menular seksual (IMS), hingga kanker serviks. Sebuah studi terbaru pada tahun 2026 di jurnal BMJ bahkan mengonfirmasi bahwa pengumpulan sampel darah haid melalui pembalut mini memiliki akurasi yang setara dengan pemeriksaan HPV oleh dokter.

Tidak hanya urusan penyakit internal, analisis laboratorium pada darah menstruasi juga mampu mendeteksi tingkat paparan lingkungan berbahaya seperti mikroplastik dan polutan udara. Penelitian lain dalam jurnal Science of the Total Environment mengonfirmasi kehadiran zat kimia beracun pemicu gangguan endokrin yang luruh bersama darah setiap bulannya.

Kendati demikian, tantangan besar seperti stabilitas kesegaran sampel di dalam cangkir menstruasi dan variasi hormon pasien masih membayangi para ilmuwan. Bethany Samuelson Bannow dari Cleveland Clinic Foundation mengingatkan bahwa proses pembekuan darah yang terus berjalan berisiko merusak struktur sel yang dibutuhkan untuk penelitian.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....