Mengapa Makanan Berminyak Bisa Mengganggu Jantung ?

  • 31 Agt 2026 21:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon - Makanan berminyak seperti gorengan, ayam goreng, kentang goreng, makanan cepat saji, dan berbagai makanan yang dimasak dengan banyak minyak memang memiliki cita rasa yang menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah berlebihan, jenis makanan tertentu yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pola makan tidak sehat sebagai salah satu faktor risiko penting penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Makanan berminyak dapat mengganggu jantung bukan karena semata-mata karena makanan tersebut mengandung minyak, sebab tubuh tetap membutuhkan lemak sebagai sumber energi dan untuk berbagai fungsi tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol “jahat” dalam darah, sedangkan lemak trans juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. American Heart Association mencatat bahwa makanan yang digoreng dan sebagian makanan olahan dapat menjadi sumber lemak jenuh maupun lemak trans.

Jika Kolesterol LDL tinggi hal tersebut dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempersempit atau menghambat aliran darah menuju organ, termasuk jantung. WHO menjelaskan bahwa konsumsi lemak trans industri meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan kematian akibat penyakit jantung. Karena itu, WHO merekomendasikan agar konsumsi lemak trans dibatasi kurang dari satu persen dari total asupan energi harian.

Semua orang harus perlu memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi, terutama mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung. Namun, makanan berminyak tidak harus diartikan sebagai makanan yang otomatis berbahaya atau harus dihindari seluruhnya. Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan, termasuk jumlah makanan, jenis minyak yang digunakan, cara memasak, serta keseimbangan dengan sayur, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang lebih sehat. American Heart Association dalam panduan terbarunya menekankan pentingnya mengganti sumber lemak jenuh dengan lemak tak jenuh untuk mendukung kesehatan jantung.

Masyarakat dapat mulai mengurangi frekuensi mengonsumsi gorengan dan makanan yang sangat berlemak, serta memilih metode memasak seperti mengukus, merebus, memanggang, atau menumis dengan minyak secukupnya. WHO juga menyarankan mengganti sebagian lemak jenuh dan lemak trans dengan lemak tak jenuh yang berasal antara lain dari ikan, kacang-kacangan, alpukat, serta minyak nabati tertentu. Selain itu, makanan ultra-proses dan makanan goreng yang tinggi lemak tidak sehat sebaiknya tidak menjadi bagian dominan dalam pola makan sehari-hari.

Tidak ada satu angka sederhana yang dapat menentukan bahwa seseorang pasti mengalami gangguan jantung setelah mengonsumsi makanan berminyak. Risiko lebih berkaitan dengan pola konsumsi dalam jangka panjang, kualitas lemak, jumlah yang dikonsumsi, serta faktor risiko lainnya. WHO merekomendasikan lemak jenuh tidak lebih dari 10 persen dan lemak trans tidak lebih dari 1 persen dari total energi harian. Artinya, masyarakat tetap dapat menikmati makanan favorit secara bijak dengan memperhatikan porsi, frekuensi, dan keseimbangan makanan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....