Ketika Idola Terasa Seperti Teman

  • 31 Agt 2026 10:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – “Dia kan nggak kenal kamu, kok bisa sampai sesayang itu?” Kalimat tersebut mungkin terdengar familiar ketika seseorang terlalu mengidolakan penyanyi, aktor, kreator konten, atau bahkan karakter fiksi. Namun, bagi orang yang mengalaminya, kedekatan tersebut dapat terasa begitu nyata.

Mereka mengikuti keseharian idolanya, mengetahui kebiasaannya, hingga merasa ikut bahagia atau sedih ketika sesuatu terjadi padanya. Fenomena ini dikenal sebagai parasocial relationship.

Merujuk pada laman britannica.com, hubungan parasosial dapat membuat seseorang merasa seolah-olah mengenal figur publik secara personal, meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak berlangsung secara timbal balik. Istilah parasocial relationship sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada 1956 untuk menggambarkan hubungan satu arah yang terbentuk antara audiens dan figur yang mereka lihat melalui media.

Media sosial membuat hubungan semacam ini semakin mudah terbentuk. Jika dahulu penggemar hanya mengenal selebritas melalui televisi, majalah, atau radio, kini mereka dapat melihat unggahan sehari-hari, siaran langsung, vlog, hingga interaksi dengan penggemar.

Dilansir dari clevelandclinic.org, paparan media yang terus-menerus dapat membuat figur publik terasa semakin familiar, sehingga batas antara “orang yang ditonton” dan “orang yang dikenal” menjadi semakin samar. Perasaan dekat tersebut sebenarnya tidak selalu buruk.

Melansir dari psychologytoday.com, hubungan parasosial dapat memberikan rasa keterhubungan dan menjadi sumber dukungan emosional, terutama ketika seseorang merasa memiliki kesamaan pengalaman atau nilai dengan figur yang diikutinya. Seseorang dapat memperoleh hiburan, inspirasi, bahkan rasa ditemani melalui figur yang mereka sukai.

Masalah dapat muncul ketika kedekatan satu arah tersebut mulai menguasai kehidupan seseorang. Ada penggemar yang merasa sangat terpukul ketika idolanya memiliki pasangan, marah ketika idolanya dikritik, atau merasa berhak menentukan keputusan pribadi sang idola.

Dalam kondisi yang lebih ekstrem, seseorang dapat menghabiskan terlalu banyak waktu, uang, dan energi untuk mempertahankan hubungan semu tersebut hingga mengganggu kehidupan nyata. Media sosial juga membuat fenomena ini semakin kompleks karena figur publik dapat berkomunikasi langsung dengan penggemarnya.

Sebuah komentar yang dibalas, sapaan saat siaran langsung, atau unggahan yang terasa “relate” dapat membuat penggemar merasa memiliki hubungan khusus. Padahal, interaksi tersebut belum tentu menunjukkan adanya hubungan personal. Kesadaran terhadap batas tersebut penting agar kekaguman tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan tanpa berubah menjadi ketergantungan.

Pada akhirnya, menyukai seseorang yang bahkan tidak mengenal kita bukanlah sesuatu yang memalukan. Manusia memang memiliki kemampuan untuk merasa dekat dengan orang yang hanya mereka kenal melalui media.

Yang perlu dijaga adalah batas antara mengagumi dan memiliki, antara merasa terinspirasi dan menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada figur tersebut. Karena seorang idola boleh menjadi bagian dari hidup kita, tetapi kehidupan kita tetap tidak seharusnya berputar sepenuhnya di sekitar mereka.

(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....