Mengenal Penyakit Paru-Paru Basah
- 31 Jul 2026 23:57 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Istilah paru-paru basah masih sering digunakan masyarakat untuk menyebut penyakit yang menyerang paru-paru. Namun secara medis, kondisi ini umumnya mengacu pada pneumonia, yaitu infeksi yang menyebabkan kantung-kantung udara (alveoli) di paru-paru terisi cairan atau nanah sehingga mengganggu proses pernapasan. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.
Pneumonia dapat terjadi kapan saja sepanjang tahun dan lebih berisiko menyerang bayi, lansia, perokok, serta orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau penyakit kronis. Penyakit ini ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia, sehingga menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Ketika infeksi terjadi, kantung udara di paru-paru dipenuhi cairan sehingga penderita mengalami sesak napas, batuk, demam, menggigil, nyeri dada, hingga tubuh terasa lemas. Kondisi ini dapat berkembang menjadi serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.
Dokter menjelaskan bahwa penularan pneumonia umumnya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, maupun melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Karena itu, menjaga kebersihan tangan, memakai masker ketika sakit, serta menerapkan etika batuk menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan.
Penanganan pneumonia bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh bakteri, dokter akan memberikan antibiotik sesuai indikasi. Selain itu, penderita dianjurkan memperbanyak istirahat, mencukupi kebutuhan cairan, serta segera mendapatkan perawatan di rumah sakit apabila mengalami sesak napas berat atau kadar oksigen menurun.
WHO juga menekankan bahwa pneumonia dapat dicegah melalui vaksinasi, pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, menghindari kebiasaan merokok, serta menjaga kualitas udara di lingkungan. Upaya pencegahan tersebut dinilai efektif untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi paru, terutama pada kelompok yang rentan.
Masyarakat diimbau tidak menganggap remeh gejala batuk disertai demam tinggi dan sesak napas. Apabila keluhan tidak kunjung membaik atau semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan agar memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat. Penanganan sejak dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....