Mengapa Perempuan Lebih Rentan Autoimun?

  • 31 Agt 2026 10:22 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari ancaman justru menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri. Menariknya, sebagian besar penyakit autoimun lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Dilansir dari nih.gov, sekitar empat dari lima orang yang didiagnosis penyakit autoimun adalah perempuan. Salah satu faktor yang banyak diteliti adalah perbedaan sistem kekebalan antara perempuan dan laki-laki.

Merujuk pada laman ncbi.nlm.nih.gov, perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh hormon seks, kromosom X, faktor genetik, serta bagaimana tubuh merespons lingkungan. Namun, hingga kini tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa perempuan lebih rentan mengalami penyakit autoimun.

Hormon juga diduga memiliki peran penting. Hormon seks, termasuk estrogen, dapat memengaruhi aktivitas sel-sel kekebalan dan respons imun tubuh. Respons imun yang lebih kuat pada perempuan memang dapat membantu tubuh menghadapi berbagai infeksi, tetapi pada kondisi tertentu respons tersebut juga dapat meningkatkan kemungkinan sistem kekebalan menyerang jaringan tubuh sendiri.

Selain hormon, kromosom X juga menjadi perhatian para peneliti. Perempuan umumnya memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Penelitian menunjukkan bahwa molekul RNA bernama XIST yang berperan dalam proses inaktivasi salah satu kromosom X mungkin ikut berhubungan dengan munculnya respons autoimun.

Meski demikian, mekanisme tersebut masih terus diteliti dan belum dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab. Perbedaan tersebut terlihat pada sejumlah penyakit autoimun. Beberapa penyakit memiliki perbedaan angka kejadian yang cukup besar antara perempuan dan laki-laki. Lupus, misalnya, jauh lebih sering ditemukan pada perempuan, begitu pula dengan sindrom Sjögren dan sejumlah penyakit autoimun lainnya. Namun, tidak semua penyakit autoimun lebih banyak terjadi pada perempuan.

Para peneliti juga masih mempelajari berbagai faktor lain, termasuk genetik, lingkungan, infeksi, mikrobioma, serta perubahan sistem kekebalan sepanjang kehidupan. Sebagian besar penyakit autoimun diperkirakan muncul melalui kombinasi faktor genetik dan paparan atau pemicu tertentu dari lingkungan. Artinya, menjadi perempuan tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit autoimun.

Pada akhirnya, tingginya kasus autoimun pada perempuan menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh memiliki mekanisme yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Hormon, kromosom X, genetik, serta lingkungan kemungkinan saling berinteraksi dalam meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tertentu.

Penelitian mengenai hubungan antara jenis kelamin dan autoimun pun masih terus berkembang, sehingga pemahaman mengenai penyakit ini diharapkan dapat membantu pengembangan deteksi dan penanganan yang lebih tepat di masa mendatang.

(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....